KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN


Pendahuluan

Ilmu pendidikan yang sering juga disebut yang sering juga disebut sebagai pedogi merupakan suatu disiplin ilmu yang terkait dengan proses peradaban, pemberbudayaan dan pendewasaan manusia. Dalam konteks ini pendidikan mempunyai tiga fungsi utama yaitu fungsi integrative, fungsi egalitarian, dan pengembangan. Ketiga fungsi pendidikan ini harus menjadi pegangan dalam melaksanakan pendidikan secara nasional. Ini sejalan dengan apa yang telah digariskan dalam Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI Bag 1, 2007).

Kajian yang akan dibahas dalam bab ini adalah tentang  ilmu pendidikan  teoritas sehingga focus pengkajian utama adalah pada konsep-konsep dasar tentang pendidikan, bukan pada pelaksanaan atau praktik pendidikan.

1.1  Pengertian Pendidikan

Pendidikan sebagai upaya manusia untuk manusia adalah aspek dan hasil budaya terbaik yang mampu disediakan setiap generasi komusitas manusia untuk kepentingan generasi manusia muda agar dapat melanjutkan kehidupan dan cara hidup mereka dalam konteks sosio-budaya mereka pula. Setiap masyarakat pluralistic dizaman modern soyogiyannya berharap menugaskan kelompok warganya yang terplih sebagai pendidik, untuk melaksanakan tugas pembinaan pribadi manusia dari generasi peserta didik bag kepentingan kelanjutan dari masing-masing masyarakat yang bersangkutan (Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007).

Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kribadianya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau pedagogie, berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar dia menjadi orang dewasa. Selanjutnya, pendidikan di artikan sebagai usaha yang dijalankan seseorang atau kelomppok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Sudirman N., dkk, 1992: 4).

Kenyataannya,pengertian pendidikan ini selalu mengalami perkembangan, meskipun secara essential tidak jauh berbeda. Berikut ini akan dikemukakan sejumlah pengertian pendidikan.

Langeveld

Pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buka, putaran hidup sehari-hari, dsb) dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa.

John Dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.

J.J Rousseau

Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutukannya pada waktu dewasa.

Carter V. Gooda.  menyatakan “Pedagogy is the art, practice or profession of teaching. b.      The systematized learning or instruction concerning principles and methods of teaching and of student control and guidance, largely replaced by the term education”.

Pendidikan ialah:

  1. Seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar
  2. Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan (Hasbulloh, 1999).

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Sukardjo dan Komarudin

Sukardjo dan Komarudin, (2010: 9) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan adalah kumpulan dari semua proses yang memungkinkan seseorang mampu mengembangkan seluruh kemampuan (potensi) yang dimilikinya, sikap dan bentuk perilaku yang bernilai positif di masyarakat tempat individu yang bersangkutan berada.

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Lebih lanjut beliau ( Kerja Ki Hajar Dewantara (1962) menjelaskan bahwa “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti ( kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak, dalam pengertian Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu, agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya “.(www.wikipediapendidikan.com).

UU No 20 Tahun 2003

Dalam UU NO 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat.

Pidarte Made

Pidarta Made (2007: 169) menyatakan pendidikan adalah suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berperilaku mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Dimanapun orang berada disitulah terjadi proses pendidikan dan enkulturasi. Tempat terjadinya enkulturasi adalah sekolah, keluarga, dalam perkumpulan pemuda, perkumpulan olahraga, kesenian, keagamaan, di tempat kursus dan latihan.

Dari beberapa pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli tersebut, berbeda secara redaksional, namun secara esensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat didalamnya.

Unsur-unsur esensial dalalam pengertian pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Pembinaan (kepribadian), pengembangan (kemampuan atau potensi diri), peningkatan (pengetahuan) serta tujuan (kearah mana peserta didik akn diharapakan akan mengaktualisasikan dirinya seoptimal mungkin.
  2. Ada hubungan antara kedua belah pihak (pendidik dan peserta didik)
  3. Aktifitas pendidikan berlangsung dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pendidikan merupakan fenomena manusia yang fundamental yang juga mempunyai sifat konstruktif dalam hidup manusia. Karena itulah kita dituntut untuk mampu mengadakan refleksi ilmiah tentang pendidikan tersebut, sebagai pertanggungjawaban terhadap perbuatan yang dilakukan, yaitu mendidik dan dididik. Dalam konteks ini kita tidak boleh mencampuradukkan antara pengertian pendidikan sebagai tindakan manusia dlam usahanya membimbing manusia yang lain, dengan  pengertian ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan. Secara historis, pendidikan jauh lebih tua dari ilmu pendidikan, sebab pendidikan telah ada sejaka adanya manusia. Sedangkan ilmu pendidikan baru lahir kira-kira pada abad ke-19. Sebelum adanya ilmu pendidikan, manusia melakukan tindakan mendidik didasarkan atas pengalaman, intuisi dan kebijaksanaan (Hasbulloh, 1999).

Sebagaimana halnya dengan pengertian pendidikan maka pengertian ilmu pendidikan juga terdapat banyak variasi batasan yang diberikan oleh para ahli.

Menurut Prof. Dr. N. Driyarkara, Ilmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik). Pemikiran ilmiah bersifat kritis, metodis, dan sistematis.

Menurut Prof M.J. Langeveld, Paedagogi atau ilmu mendidik ialah suatu ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakiki objek itu, malainkan mempelajari pula betapa hendaknya bertindak. Objek ilmu pendidikan ialah proses atau situasi pendidikan.

Dr. Sutari Imam Barnadib, Ilmu pendidikan mempelajari suasana dan proses-prose pendidikan Sedaangkan menurut Prof. Brodjonegoro, Ilmu penddidikan atau paedagogi adalah teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan. Dalam arti yang luas paedagogi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktik pendidikan. Demikian beberapa batasan tentang pengertian tentang ilmu pendidikan yang diberikan oleh para ahli, yang pada dasarnya sepakat bahwa yang dimaksud dengan ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan (Hasbulloh, 199).

Dari keterangan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa persyaratan pendidikan sebagai ilmu meliputi tiga hal sebagai berikut:

  1. Memiliki objek studi baik baik objek material maupun objek formal
  2. Memiliki sistematika
  3. Memiliki metode

1.2  Tujuan Ilmu Pendidikan

Tugas paedagogik teoritis diluar paedagogik histeris diemba oleh paedagogik sistematis sehingga cabang ilmunya ini sering disebut juga ilmu mendidika sistematis. Tugas paedagogik teoritis atau ilmu mendidik sistematis ialah menganalisis dan menyusun persoalan sekitar mendidik secara sistematis untuk menguraikan pokok ilmunya secara teratur sebagai kebulatan holistik (Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI Bag 1, 2007).

Ilmu pendidikan bertujuan memberikan informasi atau keterangan tentang dasar-dasar pendidikan dalam berbagai situasi atau interaksi pendidikan, jalur dan jenis jenjang pendidikan untuk membekali peserta didik mencapai kehidupan yang berbudaya dan mandiri yang lebih baik di masa depannya. Memberikan informasi dalam arti menjelaskan permasalahan, sebab-sebab dan kemungkinan mengupayakan dan pembekalan bagi pendidik dalam mendidik putra putrinya atau generasi berikutnya (Tim pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Bag 4, 2007).

Dari penjelasan di atas jelas ada sebuah perbedaan yang mendasar antara tujuan ilmu pendidikan dan tujuan pendidikan. Tujuan ilmu pendidik ditujukan untuk mempersiapkan para pendidik-pendidik yang profesioanl. Sedangkan tujuan pendidikan ditujuan untuk mengembangkan peserta didik untuk mencapai pengembangan diri secara optimal.

1.4  Ruang Lingkup Dari Ilmu Pendidikan

Ilmu pendidikan mempunyai garapan dan ruang lingkup yang luas, diantaranya dapat dilihat berdasarkan substansi, historis komparatif, aliran-aliran filsafat dan kasus-kasus strategic. Substansi itu meinimal terdiri atas komponen-komponen berikut yang bertalian satu sama lain, 1) filsafat atau tujuan dan evaluasi pendidikan, 2) Peserta didik dari buaian hingga liang lahat, 3) Pendidik dan tenaga kependidikan, 4) Kurikulum dan metodologi pendidikan, 5) Lembaga pendidikan, dan 6) Faktor-faktor penunjang. Banyak penulis dalam bidang pendidikan yang tidak terlalu mempersolakan secara tersurat kaitan pendidikan, teori pendidikan, filsafat pendidikan dan ilmu pendidikan. Mereka lebih mempedulikan langsung proses pendidikan dan manfaatnya bagi perkembangan individu secara optimal. Oleh karena itu ada sebagian ahli pendidikan beranggaan bahwa sesungguhnya ilmu pendidikan itu ialah penerapan ilmu-ilmu lain dalam praktek pendidikan. Jadi ilmu pendidikan itu bukalah ilmu yang berdiri sendiri. Pendidikan sesungguhnya hanya menggunakan hasil-hasil penelitian antropologi (filosofis, sosial dan cultural) psikologi (khusus psikologi perkembangan atau psikologi belajar) sosiologi (khususnya sosialisai anak dalam hubungan dengan status dan peranan orang tua dalam suatu masyarakat dan bidang studi yang akan diajarkan. Anggapan yang demikian itu kurang tepat, bahkan keliru karena ilmu pendidikan memiliki subjek penelitian yang khas yaitu fenomena atau situasi pendidikan dimana dalam proses perkembangan perserta didik terjadi interaksi antara pelajar atau peserta didik dengan pendidik, sedangkan pendekatan yang dipergunakan adalah minimal perpaduan antara pendekatan filosofis dan empiris. Hasil kedua pendekatan itu akan berupa suatu teori pendidikan (Tim pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Bag 4, 2007: 316).

1.5  Sifat-Sifat Ilmu Pendidikan

Menurut Munib (2006: 34) ada beberapa sifat dari ilmu pendidikan, yaitu:

1.      Ilmu pendidikan sebagai Ilmu yang Bersifat Deskriptif-Normatif

Ilmu pendidikan itu selalu berhubungan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan tentang, siapakah manusia biasaya termasuk bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi. Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep serta praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa yang melaksanakan  pendidikan. Nilai yang dijunjung tinggi ini dijadikan norma untuk menentukan cirri-ciri manusia yang ingin dicapai melalui praktik pendidikan. Nilai-nilai ini diperoleh hanya dari praktik dan pengalaman mendidik, tapi secara normatif bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat, dan pandangan hidup, bahkan juga dari keyakinan keagamaan yang dianut oleh seseorang.

2.      Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu yang Bersifat Teoritis dan Praktis-Pragmatis

Pada umumnya ilmu mendidik tidak hanya mencari pengetahuan diskriptif tentang objek pendidikan, melainkan ingin juga mengetahui bagaimana cara sebaiknya untuk berfaedah terhadap objek didiknya. Jadi dilihat dari maksut dan tujuanya, ilmu mendidik boleh disebut “ilmu yang praktis”, sebab ditujukan kepada praktik dan perbuatan-perbuatan yang mempengaruhi anak didiknya. Walaupun ilmu pendidikan ditujukan kepada praktik mendidik, namun perlu dibedakan ilmu pendidikan sebagai ilmu yang bersifat praktis-pragmatis. Dalam ilmu mendidik teoritis kita bedakan, ilmu mendidik teoritis menjadi ilmu mendidik sistematis dan ilmu mendidik historis. Dalam ilmu mendidik teoritis para cerdik pandai mengatur dan mensistematiskan di dalam pemikiranya apa yang tersusun sebagai pola pemikiran pedidikan. Jadi dari praktik-praktik pendidikan disusun pemikiran-pemikiran secara teoritis. Pemikiran teoritis ini disusun dalam satu sistem pendidikan dan biasanya disebut ilmu mendidik teoritis. Ilmu mendidik teoritis ini disebut juga ilmu mendidik sistematis. Jadi sebenarnya kedua istilah itu mempunya arti yang sama, yaitu teoritis sama saja dengan sistematis.

Dalam rangka membicarakan ilmu mendidik teoritis perlu diperhatikan sejarah pendidikan. Dengan mempelajari sejarah endidikan itu terlihat telah tersusun pandangan – pandangan teoritis yang dapat dipakai sebagai peringatan untuk menyusun teori pendidikan selanjutnya. Dapat disimpulkan bahwa ilmu mendidik sistematis mendahului ilmu mendidik historis. Akan tetapi ilmu mendidik historis memberikan bantuan dan memperkaya ilmu mendidik sistematis. Kedua-duanya membantu para pendidik agar berhati – hati dalam raktik-praktik pendidikan. Para pendidik yang jenius itu sebenarnya juga menggunakan teorinya sendiri, walapun teori tersebut belum disistematiskan.

1.5 Faktor Pendidikan

Menurut Sutari Imam Bernadib (dalam Hasbulloh, 1999: 9-10) bahwa perbuatan mendidik dan dididik memuat faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan, yaitu:

  1. Adanya tujuan yang hendak di capai.
  2. Adanya subjek manusia yang melakukan pendidikan
  3. Yang hidup bersama dalam dalam lingkungan hidup tertentu (milieu)
  4. Yang menggunakan alat tertentu untuk mencapai tujuan.

Antara faktor yang satu dan faktor yang lainnya, tidak bisa dipisahkan, karena kesemuanya saling mempengaruhi.

1.5.1        Faktor Tujuan

Faktor Tujuan Bagi Pendidikan

Di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:

  1. Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
  2. Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
  3. Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.
  4. Memberi nilai pada usaha yang dilakukan (Hasbulloh, 2005)

1.5.2        Faktor pendidik

Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (UU No 20 Tahun 2003).

1.5.3        Faktor anak didik

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (UU No 20 Tahun 2003). Sedangkan menurut Imam Barnadib (dalam Hasbulloh, 2005) anak didik dalam arti umum adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau kelompok orang yang menjalankan pendidikan. Sedangkan dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Munib, dkk. (2006). Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UNNES Press.

Hasan, Said Hamid, dkk (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Peneliti dan Pengembangan Pusat Kurikulum

Hasbulloh. (2005). Dasar-dasar Ilmu pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Made, Pidarta. (2007). Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2007.

Sukardjo dan Komarudin Ukim. (2010). Landasan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. 2010.

……..  www. Wikipediapendidikan.com. Diakses tanggal 29 September 2011.

Sudrajat. Akhmad. (2008). landasan bimbingan dan konseling. (www. akhmadsudrajat. com) diakses tanggal 25 Sepetember 2011

Wahyudin Dinn, dkk. (2008). Pengantar Pendidikan, Jakarta : Universitas Terbuka. 2008.

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bag 1 (Pendidikan Lintas Bidang). PT. Imperial Bhakti Utama..

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bag 4 (Pendidikan Lintas Bidang). PT. Imperial Bhakti Utama.

About these ads

Tentang Binham

Aku hanyalah manusia biasa yang setiap saat bisa saja berbuat salah, dari itulah aku akan selalu berusaha berbenah diri untuk menjadi lebih baik
Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke KONSEP DASAR ILMU PENDIDIKAN

  1. Ping-balik: ILMU PENDIDIKAN ISLAM: Sebagai Ilmu yang Normatif, Teoritis, Praktis « LABIB Al-CIAMISI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s