Penyiapan Tujuan Instruksional


Pendahuluan

Tujuan instruksional memegangn peranan penting dalam proses belajar mengajar. Secara ontologi tujuan menurut Johnson and Johnson (dalam Sukardi, 2008) dinyatakan sebagai berikut, A good is desired state of future affairs, atau tujuan merupakan pernyataan yang diinginkan tentang urusan atau kegiatan yang akan datang.

Menurut sukardi (2008: 70) dalam konteks evaluasi pendidikan, tujuan memiliki posisi penting minimal dalam empat hal berikut:

1)      Merupakan petunjuk dalam bertindak. Tujuan bagi guru sangat penting karena dengan memahami tujuan akan member arah dalam bertindak di dalam kelas dan juga arahan kepada siswa tentang apa yang perlu dilakukan agar tetap dalam kisi-kisi kerja guna tercapainya tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu.

2)      Memotivasi perilaku siswa untuk tetap dapat menguasai materi yang diberikan guru. Tujuan merupakan motivator siswa yang mampu membangkitkan energy untuk tetap hadir, duduk, dan mengikuti proses pembelajaran yang diberikan oleh guru.

3)      Tujuan memberikan basis untuk memecahkan permasalahan sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa. Permasalahan yang muncul dapat menimbulkan model-model pembelajaran maupun cara evaluasi yang semakin mengakomodasi bidang keahlian tertentu.

4)      Tujuan merupakan prasyarat seorang guru dalam melakukan penilaian, tanpa mengetahui apa tujuan instruksional dan apa kegiatan siswa dalam proses pembelajaran, mestinya tidak perlu ada evaluasi yang dilakukan.

Macam-macam Tujuan Pendidikan

Menurut Grondlond (1985) tujuan pendidikan merupakan saringan dan pernyatan kehendak dari beberapa pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah, lembaga atau yayasan, anak-anak dan orag tua, serta para stakeholder yang berkepetingan. Tujuan secara garis besar dapat dibedakan dari yang bersifat kebijakan, atau umum sampai tujuan instruksional khusus, yaitu tujuan pendidikan, tujauan  instruksional umum, tujuan  instruksional khusus, dan penampilan siswa (Sukardi, 2008).

Menurut Sukardi (2008: 71-72) macam-macam tujuan yang sering ditemui dalam kaitannya denan proses belejar diuraikan seperti berikut:

Tujuan pendidikan disebut juga aims atau educational goal merupakan tujuan pendidikan yang dinyatakan secara luas, dan merupakan kerja dalam kerangka jangka panjang. Tujuan ini digunakan dalam tingkat kebijakan dan perencanaan program yang masih memiliki cangkupan yang luas.

Tujuan instruksional umum merupakan tujuan yang dinyatakan dalam batasan umum dan guna mengarahkan keberadaan tujuan belajar yang lebih spesifik. Tujuan umum ini memerikann guru arahan, misalna dalam macam-macam metode, dan cara evaluasi yang tepat, agar tujuan belajar yang lebih spesifik dapat dikembangkan.

Tujuan instruksional khusus merupakan tujuan dalam proses belajar mengajar yang dinyatakan dalam tingkat operaasional , dengan beerapa indicator ketercapaian, seperti spesifik, dapat diobservasi, dan dapat diukur keberhasilannya. Tujuan ini erupakan tujuan yang sudah dalam tataran realitas dan berkaitaan erat dengan kegiatan belajar dan perilaku khusus yang diinginkan guru didalam kelas. Dengan penguasaan tujuan instrusional khusus ini, siswa ang menguasai akan memiliki perbedaan dalam perilaku dengan siswa yang belum menguasai.

Sedangkan Menurut Arikunto (1997) macam-macam tujuan pendidikan dijabarkan sebagai berikut:

1)      Tujuan Nasional

Cita-cita bangsa Indonesia adalah terbentuknya manusia pancasila bagi seluruh warga negaranya. Tujuan pendidikannya telah disejajarkan dengan cita-cita tersebut. Semua institusi atau lembaga pendidikan harus mengarahkan segala kegiatan di sekolahnya bagi pencapaian tujuan itu. Inilah yang disebut sebagai tujuan umum pendidikan atau tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian maka tujuan pendidikan nasional memiliki fungsi sebagai frame of reference untuk selanjutnya dijabarkan menjadi tujuan instruksional.

2)      Tujuan Institusional

Tujuan institusional tujuan dari masing-masing institusi atau lembaga. Misalnya, tujuan Sekolah dasar, Tujuan Sekolah Menengah Pertama, tujuan Sekolah Pendiidkan Guru, dsb.

3)      Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan masing-masing bidang studi. Misalnya, tujuan pelajaran pendidikan agama, tujuan pelajaran matematika, tujuan pelajaran IPA dan sebagainya, yang akan berbeda dari satu bidang studi kebidang studi lain, dan juga dari tingkat institusi ketingkat institusi lain.

4)      Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional yaitu tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan sikap yang harus dimiliki leh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan instruksional merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan, secara nasional tujuan pendidikan tercantum dalam pembukaan Undang undang dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Gambaran tentang ciri ciri kedewasaan yang perlu dikembangkan pada anak didik dapat ditemukan dalam penentuan perumusan mengenai tujuan pendidikan, baik pada taraf nasional maupun taraf pengelolaan institusi pendidikan. Perumusan suatu tujuan pendidikan yang menetapkan hasil yang harus diperoleh siswa selama belajar, dijabarkan atas pengetahuan dan pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai yang telah menjadi milik siswa. Adanya tujuan tertentu memberikan arah pada usaha para pengelola pendidikan dalam berbagai taraf pelaksanaan. Dengan demikian usaha mereka menjadi tidak sia sia karena bekerja secara profesional dengan berpedoman pada patokan yang jelas. Berkaitan dengan penentuan tujuan pendidikan perlu dibedakan antara pengelolaan pendidikan pada taraf:

  1. Organisasi makro : sistem pendidikan sekolah pada taraf nasional, dengan penjabarannya dalam jenjang jenjang dan jenis jenis pendidikan sekola, yang semuanya harus menuju ke pencapaian tujuan pendidikan nasional sesuai dengan progam pendidikan masing masing
  2. Organisasi meso : pengaturan progam pendidikan di sekolah tertentu sesuai dengan ciri ciri khas jenjang tertentu dan jenis pendidikan yang di kelola sekolah itu
  3. Organisasi mikro : perencanaan dan pelaksanaan suatu proses belajar mengajar tertentu di dalam kelas yang diperuntukkan kelompok siswa tertentu (Winkel W.S, 2007)

Tujuan instruksional ternyata masuk ke dalam organisasi mikro karena mencakup kesatuan bidang studi tertentu yang menjadi pokok bahasan seperti tercantum pada bagan hubungan hierarkis antara berbagai tujuan pendidikan sekolah, taraf organisasi pendidikan sekolah dan taraf pengelolaan pendidikan sekolah dibawah ini:

Hierarki Tujuan Pendidikan Taraf Organisasi Taraf pengelolaan
Tujuan Pendidikan Nasional Makro Keseluruhan usaha pendidikan masyarakat di negara Indonesia
Tujuan Pendidikan Institusional Meso Jenjang pendidikan sekolah tertentu dan jenis pendidikan
Tujuan Pendidikan Kurikuler Meso Kesatuan kurikulum tertentu yang mencakup sejumlah bidang studi
Tujuan Instruksional Umum Mikro Kesatuan bidang studi tertentu yang mencakup sejumlah pokok bahasan
Tujuan Instruksional Khusus Mikro Satuan pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu

Tujuan Instruksional

Tujuan Instruksional lebih jelasnya adalah suatu perumusan secara lebih rinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa sesudah ia melewati kegiatan instruksional yang bersangkutan dengan berhasil (Ing. Masidjo, 1995).

Menurut para ahli tujuan instruksional dibedakan menjadi dua yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Perubahan dalam proses pembelajaran harus menjadi perhatian dan dapat dinilai oleh guru guna mengetahui apakah pengetahuan yang diberikan telah dapat diterima oleh para siswa atau belum? Perilaku tersebut harus dapat diobservasi oleh guru mapun orang lain yang berkepentingan dalam bentuk penampilan yang direncanakan.

Dalam prose pembelajaran, tujuan dapat dibedakan atas goals dan objective. Goals merupakan tujuan yang biasanya dinyatakan secara umum dan memberikan peluang untuk dibangunnya tujuan yang lebih spesifik, yaitu tujuan instruksional khusus atau sering disebut juga objectives. Objektives atau sering disebut juga sebagai tujuan instruksional khusus pada prinsipnya merupakan pernyataan tujuan yang lebih ooperasional dan dekat dengan perilaku yang diharapkan. Agar dapat diukur secara objectives, tujuan instruksional khusus memiliki indicator kriteria yang akan dijabarkan sebagai berikut:

1)      Tujuan instruksional khusus sebaiknya memiliki kriteria Spesifik

2)      Tujuan instruksional khusus sebaiknya ketercapainnya dapat diukur atau Measurable.

3)      Tujuan instruksional khusus sebaiknya dapat dicapai atau Achieveable oleh para siswa.

4)      Tujuan instruksional khusus sebaiknya mencerminkan perilaku yang diinginkan oleh seorang guru, misalnya penampilan konsisten atau Reliable.

5)      Tujuan instruksional sebaiknya dibatasi dengan keterikatan dengan waktu atau time bounding (Sukardi, 2008).

Didalam merumuskan tujuan instruksional harus diusahakan agar Nampak bahwa setelah tercapainya tujuan itu terjadi adanya perubahan pada diri anak yang meliputi kemampuan intelektual, sikap/minat maupun ketrampilan yang oleh Bloom dan kawan-kawannya dikenal sebagai aspek kognitif, afektik dan psikomotor (Arikunto, 1997).

Setiap tingkah laku dari masing-masing ranah dapat dijelaskan sebagai berikiut:

1)      Ranah Kognitif

Tingkah laku dalam ranah kognitif adalah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

2)      Ranah Afektif

Tingkah laku dalam ranah afektif adalah penerimaan, partisipasi, penilaian, organisisi, dan pembentukan pola hidup.

3)      Ranah Psikomotor

Tingkah laku dalam ranah psikomotoris adalah persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakana dan kreativitas.

Agar tujuan instruksional khusus dari suatu mata pelajaran dapat dirumuskan secara operasional yang dapat diukur dan dinilai sebagai kesatuan TIK yang integral maka perlu mengandung komponen-komponen Audience, Behaviour, Condition, dan Degree.

1)      Audience atau siswa. Dalam hal ini siswa yang harus dapat mengerjakan perbuatan yang dinyatakan dalam tujuan.

2)      Behaviour atau tingkah laku. Dalam hal ini tingkah laku yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa pada akhir program instruksional tertentu. Tingkah laku tersebut dinyatakan dalam bentuk kata kerja yang menunjukkan tingkah laku yang dapat diamati.

3)      Condition atau syarat atau kondisi. Dalam hal ini syarat yang harus dipenuhi pada saat tingkah laku dilakukan siswa pada saat perbuatan itu dinilai.

4)      Degree atau tingkat. Dalam hal ini tingkat keberhasilan yang harus dipenuhi siswa (Ing. Masidjo, 1995).

Sedangkan menurut Arikunto (1997: 131-132) langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menentukan tujuan instruksional khusus adalah:

1)      Membuat sejumlah TIU (Tujuan Instruksional Umum) untuk setiap mata pelajaran/bidang studi yang akan diajarkan. Dalam merumuskan TIU digunakan kata kerja yang sifatnya umum dan tidak dapat diukur karena perubahan tingkah laku masih terjadi di dalam diri manusia (intern).

2)      Dari masing-masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusannya jelas, khusus, dapat diamati, terukur, dan menunjukkan perubahan perilaku

Kelemahan dan Kelebihan Penyusunan Tujuan Instruksional.

Kelemahan utama dalam menyusun tujuan perilaku atas dasar tujuan instruksional umum mapun tujuan instruksional khusus adalah bagaimana mengetahui kapasitas seorang siswa setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya, termasuk berapa tujuan yang diperlukan sebalum tujuan instruksional disusun. Beberapa kelemahan dalam menyatakan tujuan perilakudi antaranya sebagai berikut:

1)      Perilaku yang komplek yang melibatkan kegiatan proses memaknai yang cukup sulit.

2)      Tujuan perilaku yang dinyatakan terlalu berserak untuk dinyatakan secara tertulis

3)      Ketrampilan atau perilaku seorang siswa tidak dinyatakan seperti objek yang konkrit.

Kelebihan tujuan perilaku dinyatakan secara jelas dalam evaluasi pembelajaran di antaranya adalah tujuan perilaku akan mendorong guru tetap memperhatikan menegemen pendidikan dalam kelas agar menjadi lebih baik, lebih efektif, umpan balik kepada siswa dapat lebih dipertanggungjawabkan kepada public (Sukardi, 2008).

Daftar Pustaka

Arikunto, S. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Masidjo, Ign. (1995). Penilaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogjakarta: Kanisius

Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Winkel, W.S. (2007). Psikologi Pembelajaran. Media Abadi.

About these ads

Tentang Binham

Aku hanyalah manusia biasa yang setiap saat bisa saja berbuat salah, dari itulah aku akan selalu berusaha berbenah diri untuk menjadi lebih baik
Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s