Teori Kepribadian Humanistik


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam psikologi terdapat tiga revolusi yang mempengaruhi pemikiran personologis modern. Revolusi pertama adalah psikoanalisa, yang menghadirkan manusia sebagai bentuk dari naluri-naluri dan konflik-konflik. Konsepsi manusia yang suram ini, sebagaimana telah kita ketahui, muncul dari kegiatan terapi dan studi atas individu yang mengalami gangguan, di mana Freud dengan psikoanalisanya menekankan bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar dan irrasional. Revolusi yang kedua, behaviorisme, mencirikan manusia sebagai korban yang fleksibel, pasif, dan penurut terhadap stimulus lingkungan, atau sebagai bidak dari ketantuan lingkungan. Sebagaimana yang diiktisarkan oleh Skinner, behavioristme menekankan persamaan essensial manusia dengan hewan, dan menitikberatkan belajar sebagai ikhtiar untuk menerangkan tingkah laku manusia. Kemudian muncul revolusi yang ketiga, psikologi humanistic. Psikologi humanistik ini adalah sebuah “gerakan” yang muncul dengan menampilkan gambaran manusia yang berbeda dengan gambaran manusia dari psionalisis maupun behaviorisme, yakni berupa gambaran manusia sebagai makhluk yang bebas dan bermartabat serta selalu bergerak ke arah pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya apabila lingkungan memungkinkan.

Sebagaimana telah kita ketahui, yang menjadi pemimpin atau bapak spiritual dari psikologi humanistic itu adalah Abraham Maslow. Dalam bab ini, Maslow, dengan beberapa gagasannya yang utama, akan dihadirkan sebagai representasi dari teori kepribadian humanistik. Di samping karena kepemimpinannya. Maslow dihadirkan karena teorinya yang comprehensif. Dan sangat jelas mencerminkan orientasi humanistik memiliki pengaruh yang besar terhadap pemikiran modern mengenai tingkah laku manusia (Koeswara, E.1991:109).

Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian teori kepribadian humanistik?
  2. Bagaimana teori kepribadian humanistik menurut Carl Rogers?
  3. Bagaimana teori kepribadian humanistik menurut Maslow?
  4. Bagaimana teori kepribadian humanistik menurut George A Kelly?
  5. Bagaimana aplikasi teori kepribadian humanistik

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teori Kepribadian Humanistik

Teori humanistik (Yusuf Syamsu, 2007:141) berkembang sekitar tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua teori ini adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori Freud dikritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan animalistic (hewan). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik dengan penelitiannya terhadap binatang, dan menganalisis kepribadian secara pragmentasi. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak berdaya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.

Teori humanistik dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternative dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanalisis dan behavioristik). Kekuatan yang ketiga ini dinamakan humanistic karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya” (Yusuf Syamsu, 2007:141).

B.     Teori Kepribadian Humanistik Menurut Carl Rogers

Rogers adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan latihan lainnyayang ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun teorinya berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan “person-centered theory” (Yusuf Syamsu, 2007: 143).

B.1. Konstruk (Aspek-aspek) Kepribadian

Karena perhatian utama Rogers kepada perkembangan atau perubahan kepribadian, maka dia tidak menekankan kepada struktuk kepribadian. Meskipun begitu, dia mengajukan dua konstruk pokok dalam teorinya, yaitu: organisme dan self (Yusuf Syamsu; 2007 : 143).

1)      Organisme

Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external world). Totalitas pengalaman, baik yang disadari maupun yang tidak disadari membangun medan fenomenal (phenomenal field).

Medan penomena seseorang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali melalui inferensi empatik, itu pun tidak pernah diketahui secara sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku itu bukan fungsi (pengaruh) dari realitas eksternal, atau stimulus lingkungan, tetapi realitas subjektif atau medan fenomenal.

2)      Self

Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan “self concept” (konsep diri). Rogers mengartikannya sebagai “persepsi tentang karakteristik ‘I’ atau ‘me’ dan persepsi tentanmg hubungan ‘I’ atau ‘me’ dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut”. Diartikan juga sebagai “Keyakinan tentang kenyataan, keunikan, dan kualitas tingkah laku diri sendiri”. Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri.

Hubungan antara “self concept” dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu “congruence” atau “incongruence”. Kedua kemungkinan hubungan ini menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian (adjustment), dan kesehatan mental (mental health) seseorang.

Apabila antara “self concept” dengan organisme terjadi kecocokan maka hubungan itu disebut kongruen, tetapi apabila terjadi diskrepansi (ketidak cocokan) maka hubungan itu itu disebut inkongruen.

Suasana inkongruen menyebabkan seseorang mengalami sakit mental (mental illness), seperti merasa terancam, cemas, berperilaku defensif, dan berpikir yang kaku atau picik. Sedangkan kongruensi mengembangkan kesehatan mental atau penyesuaian psikologis. Ciri orang yang sehat psikologisnya adalah sebagi berikut ( Yusuf Syamsu, 2007: 145) :

  1. Dia mampu mempersepsi dirinya, orang lain, dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya secara objektif.
  2. Dia terbuka terhadap semua pengalaman karena tidak mengancam konsep dirinya.
  3. Dia mampu menggunakan semua pengalaman.
  4. Dia mampu mengembangkan dirinya ke arah aktualisasi diri, “goal of becoming”, atau “fully functioning person”.

Berkembangnya ide atau gagasan mengenai peranan self dalam kepribadian didasarkan kepada hasil penelitian Rogers sendiri pada tahun 1930-an. Pada tahun itu Rogers meneliti tentang faktor-faktor penentu yang mempengaruhi tingkah laku anak yang sehat (konstruktif) atau tidak sehat (destruktif). Faktor-faktor yang diyakini mempengaruhi anak tersebut adalah (Yusuf Syamsu, 2007: 145):

  1. Faktor eksternal, terutama lingkungan keluarga: kondisi kesehatan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, iklim intelektual, dan interaksi sosial.
  2. Faktor internal: self-insight (understanding) self acceptance, atau self responsibility.

Berdasarkan temuan-temuan atau pengalaman yang diperoleh, akhirnya Rogers mengemukakan “pengalaman yang saya peroleh mendorong saya untuk memfokuskan karir saya kepada upaya mengembangkan psikoterapi yang menitikberatkan kepada faktor self understanding, self direction, dan personal responsibility, dari pada kepada perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial”.

B.2. Dinamika Kepribadian

Rogers (Yusuf Syamsu, 2007: 146) meyakini bahwa manusia dimotivasi oleh kecenderungan atau kebutuhan untuk mengaktualisasikan, memelihara, dan meningkatkan dirinya. Kebutuhan ini bersifat bawaan sebagai kebutuhan dasar jiwa manusia, yang meliputi kebutuhan fisik dan psikis. Sebenarnya manusia memiliki kebutuhan- kebutuhan lainnya namun itu semua tunduk kepada kebutuhan yang satu ini. Kebutuhan lainnya itu adalah “positive regard of others” dan “self regard”. Kedua kebutuhan ini bersifat dipelajari mulai usia dini, yaitu ketika bayi yang mendapat curahan cinta kasih, perawatan, dan “positive regard” (penghargaan yang positif) dari orang lain (terutama orang tua).

Dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisik seperti makan dan minum, serta mempertahankan organisme dari serangan luar, maka motif aktualisasi diri memelihara organisme agar tetap survive. Di samping itu juga motif aktualisasi diri ini berfungsi untuk mendororng perkembangan menusia melalui diferensiasi organ-organ fisik, perkembangan fungsi-fungsi psikis, dan pertumbuhan seksual masa remaja.

B.3. Perkembangan Kepribadian

Rogers (Yusuf Syamsu, 2007:147) tidak mengemukakan tahapan (stages) dalam perkembangan kepribadian. Dia lebih tertarik kepada cara-cara orang lain (orang tua) menilai anak, atau sikap dan perlakuan orang tua (terutama ibu) terhadap anak. Jika orang tua tidak mencurahkan “positive regard” (penerimaan, dan cinta kasih) bahkan menampilkan sikap penolakan terhadap anak, maka kecenderungan bawaan anak untuk mengaktualisasikan dirinya menjadi terhambat. Anak mempersepsi penolakan orang tua terhadap tingkah lakunya sebagai penolakan terhadap perkembangan “self concept” nya yang baru. Apabila hal itu sering terjadi, anak akan mogok untuk berusaha menngaktualisasikan dirinya.

Secara ideal, anak mendapatkan kasih sayang dan penerimaan yang cukup pada setiap saat dari orang lain (orang tua). Kondisi ini disebut “unconditional positive regard”. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa cinta kasih ibu kepada anak tidak diberikan secara konditional, tetapi secara bebas dan penuh.

Mengingat pentingnya memperoleh kepuasan akan kebutuhan “positive regard”, khususnya pada masa anak, maka seseorang akan menjadi sensitif akan sikap dan tingkah laku orang lain. Melalui penafsiran terhadap reaksi yang yang diterima dari orang lain (baik penerimaan maupun penolakan) seseorang mungkin mengubah atau memperhalus konsep dirinya. Hal ini menunjukkan, bahwa perkembangan konsep diri seseorang dipengaruhi juga oleh upayanya menginternalisasi sikap-sikap orang lain.

Orang tua tidak selalu mereaksi setiap tingkah laku anak dengan penghargaan yang positif (positive regard), apabila tingkah laku anak ini mengganggu, menjengkelkan, atau membosankan. Berdasarkan pengalaman ini, anak belajar bahwa cinta kasih atau penerimaan orang tua bergantung kepada tingkah laku tertentu, yang disetujuinya mendapat penghargaan, sementara yang ditolaknya tidak mendapat penghargaan.

Standar pertimbangan eksternal (dari orang tua) untuk mengahargai atau menolak suatu perilaku menjadi mempribadi pada diri anak, sehingga dia akan menghukum dirinya apabila dia melakukan sesuatu yang orang tua pun menghukumnya. Anak menginternalisasi norma atau standar orang tua dalam mempertimbangkan apakah dirinya berharga atau tidak berharga, baik atau buruk. Apabila orang tua mengembangkan kondisi yang tidak menghargai anak, maka anak akan terhambat untuk mengembangkan aktualisasi dirinya.

Anak yang dikembangkan dalam suasana yang “unconditional positive regard” akan mampu mengembangkan aktualisasi dirinya atau menjadi orang yang berfungsi penuh (fully functioning person). Menurut Rogers “fully functioning person” ini merupakan tujuan dari perkembangan seseorang. Orang yang telah mencapai “fully functioning person” ini memilki karakteristik pribadi sebagai berikut (Yusuf Syamsu, 2007:148) :

  1. Memiliki kesadaran akan semua pengalaman. Tidak ada pengalaman yang ditolak, semuanya disaring melalui self. Bersikap terbuka baik terhadap perasaan yang positif (seperti keteguhan dan kelembutan hati), dan perasaan yang negatif (seperti rasa takut dan sakit).
  2. Mengalami kehidupan secara penuh dan pantas pada setiap saat. Berpartisipasi dalam kehidupan bukan sebagai pengamat.
  3. Memilki rasa percaya kepada dirinya sendiri, seperti dalam mereaksi atau merespon sesuatu. Dalam arti, dia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan data pengalaman yang diperoleh.
  4. Memiliki perasaan bebas untuk memilih tanpa hambatan apapun. Dia memahami bahwa masa depannya bergantung pada kegiatan atau aktivitasnya sendiri, bukan ditentukan oleh orang lain atau masa lalu.
  5. Menajalani kehidupan secara konstruktif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan, serta berpikir kreatif.

C.    Teori Kepribadian Humanistik Menurut Maslow

Abraham Maslow (Yusuf Syamsu, 2007: 152). adalah seorang psikolog terkenal yang teman bekerja pada psikologi humanistik telah melihat ketenaran menyebar ke berbagai mata pelajaran kemanusiaan seperti geografi dan demografi. Ia terutama terkenal dengan Hierarchy-nya Kebutuhan.

Abraham Harold Maslow (Jess Feist & Gregory Jess Feist, 2008 : 242) lahir pada 1 April 1908 di Brooklyn, New York . Maslow adalah anak sulung dari tujuh bersaudara yang lahir dari imigran Yahudi Rusia. Relatif tidak berpendidikan sendiri mereka melihat belajar sebagai kunci untuk anak-anak mereka berhasil di tanah air baru mereka. Dengan demikian semua anak-anak mereka didorong untuk belajar; Abraham anak tertua didorong sangat keras karena ia diakui sebagai seorang intelektual di usia muda.

Para ahli psikologi humanistik mempunyai perhatian terhadap isu-isu penting tentang eksistensi manusia, seperti : cinta, kreativitas, kesendirian dan perkembangan diri. Mereka tidak meyakini bahwa manusia dapat mempelajari sesuatu tentang kondisi manusia melalui penelitian terhadap binatang.

Para ahli humanistik memiliki pandangan yang optimistik terhadap hakikat manusia    (Yusuf Syamsu, 2007:142). Mereka meyakini bahwa :

  1. Manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengembangkan diri.
  2. Manusia memiliki kebebasan untuk merancang atau mengembangkan tingkah lakunya, dalam hal ini manusia bukan pion yang diatur sepenuhnya oleh lingkungan.
  3. Manusia adalah makhluk rasional dan sadar, tidak dikuasai oleh ketidaksadaran, kebutuhan irrasional dan konflik.

Karena pembahasan mengenai teori kepribadian humanistik menurut Maslow (Koeswara, E.1991:115), maka ajaran dasar psikologi yang akan dibahas antara lain :

  1. Individu sebagai keseluruhan yang integral.

Salah satu aspek yang fundamental dari psikologi humanistik adalah ajarannya bahwa manusia atau individu harus dipelajari sebagai keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi. Maslow merasa bahwa para ahli psikologi di masa lalu maupun sekarang terlalu banyak membuang waktu  untuk menganalisa kejadian-kejadian atau tingkah laku secara terpisah dan mengabaikan aspek-aspek dasar dari pribadi menyeluruh.

  1. Ketidak relevanan penyelidikan dengan hewan.

Para jurubicara psikologi humanistik mengingatkan tentang adanya perbedaan yang mendasar antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku hewan. Bagi mereka manusia lebih dari sekedar hewan. Ini bertentangan dengan behaviorisme yang mengandalkan penyelidikan tingkah laku hewan dalam memahami tingkah laku manusia. Maslow dan para teoritis kepribadian humanistik umumnya memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan hewan apapun. Maslow juga menegaskan bahwa penyelidikan dengan hewan tidak relevan bagi upaya memahami tingkah laku karena hal itu mengabaikan ciri-ciri yang khas pada manusia seperti adanya gagasan-gagasan, nilai-nilai, rasa malu, cinta, semangat, humor, rasa seni, kecemburuan dan sebagainya yang dengan kesemua ciri yang dimilikinya itu manusia bisa menciptakan pengetahuan, puisi, musik, dan pekerjaan-pekerjaan khas manusia lain-lainnya.

  1. Pembawaan baik manusia.

Teori Freud secara implisit menganggap bahwa manusia pada dasarnya memiliki karakter jahat. Impuls-impuls manusia, apabila tidak dikendalikan, akan menjuruskan manusia kepada pembinasaan sesamanya, dan juga penghancuran dirinya sendiri. Sementara pandangan ini belum jelas ketetapannya, Freud menurut Maslow hanya memiliki sedikit kepercayaan tentang kemuliaan manusia, dan berspekulasi secara pesimis tentang nasib manusia. Sebaliknya, psikologi humanistic memiliki anggapan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik atau tepatnya netral. Menurut prespektif humanistik kekuatan jahat atau merusak yang ada pada manusia itu adalah hasil dari lingkungan yang buruk dan bukan merupakan bawaan.

  1. Potensi kreatif manusia.

Mengutamakan kreativitas manusia merupakan salah satu prinsip yang penting dari psikologi humanistik. Maslow dari studinya atas sejumlah orang tertentu, menemukan bahwa pada orang-orang yang ditelitinya itu terdapat satu cirri yang umum, yakni kreatif. Dari itu Maslow menyimpulkan bahwa potensi kreatif merupakan potensi yang umum yang ada pada manusia. Maslow yakin bahwa jika setiap manusia mempunyai atau menghuni lingkungan yang menunjang setiap orang dengan kreativitasnya maka akan mampu mengungkapkan segenap potensi yang dimilikinya. Dan pada saat yang sama Maslow mengingatkan bahwa untuk menjadi kreatif orang itu tidak perlu memiliki bakat atau kemampuan khusus. Menurut Maslow kreativitas itu tidak lain adalah kekuatan yang mengarahka manusia kepada pengekspresian yang ada pada dirinya.

  1. Penekanan pada kesehatan psikologis.

Maslow secara konsisten beranggapan bahwa tidak ada satupun pendekatan psikologis yang mempelajari manusia yang bertumpu pada fungsi-fungsi manusia berikut cara dan tujuan hidupnya yang sehat. Dalam hal ini Maslow terutama mengkritik Freud yang menurutnya terlalu mengutamakan studi atas orang-orang yang tidak sehat. Dengan tegas Maslow menyebut teori psikoanalisa ortodoks sebagai teori yang berat sebelah dan kurang komperhensif karena hanya berlandaskan pada bagian yang abnormal dari tingkah laku manusia. Maslow juga merasa bahwa psikologi terlalu menekankan pada sisi negative manusia dan mengabaikan kekuatan atau sifat-sifat yang positif. Maslow yakin bahwa kita tidak akan bisa memahami gangguan mental sebelum kita memahami kesehatan mental. Karena itu Maslow mendesakkan perlunya studi atas orang-orang yang berjiwa sehat sebagai landasan bagi pengembangan psikologi yang universal.

C.1. Hierarki Kebutuhan Bertingkat menurut Maslow

Maslow (Koeswara E, 1991:118) melukiskan manusia merupakan makhluk yang tidak pernah sepenuhnya merasakan kepuasan. Bagi manusia, kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lain akan muncul dan menuntut pemuasan, begitu seterusnya. Itulah yang dimaksud kepuasan sementara menurut Maslow. Dan berdasarkan ciri yang demikian, Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang ada pada manusia adalah merupakan bawaan tersusun menurut tingkatan atau bertingkat.

Konsep maslow tentang hierarki kebutuhan bahwa kebutuhan yang lebih rendah tingkatnya harus dipuaskan atau minimal terpenuhi secara relatif sebelum kebutuhan yang lebih tinggi tingkatnya menjadi motivator tindakan. Lima kebutuhan yang membentuk hierarki kebutuhan ini merupakan kebutuhan-kebutuhan konatif, artinya bercirikan daya juang atau motivasi. Kebutuhan ini sering disebut dengan kebutuhan-kebutuhan dasar, dapat disusun dalam sebuah hierarki atau tangga jenjang, dimana setiap anak tangga selalu mengarah pada anak tangga yang ada di atasnya, mencerminkan adanya dorongan menuju kebutuhan di tingkatan lebih tinggi sekaligus menjadi syarat utama untuk bisa bertahan hidup lebih jauh.

Menurut Maslow (Koeswara E, 1991:119) kebutuhan manusia itu ada lima tingkatan yaitu :

  1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis.

Kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis itu antara lain kebutuhan akan makanan, air, udara, aktif, istirahat, keseimbangan temperature, seks dan kebutuhan akan stimulasi sensoris. Karena merupakan kebutuhan yang paling mendesak maka kebutuhan-kebutuhan fisiologis akan paling didahulukan pemuasannya oleh individu.

  1. Kebutuhan akan rasa aman.

Apabila kebutuhan fisiologis individu telah terpuaskan maka dalam diri individu akan muncul satu kebutuhan lain sebagai kebutuhan yang dominan dan menuntut pemuasan, yakni kebutuhan akan rasa aman. Yang dimaksud Maslow dengan kebutuhan akan rasa aman ini adalah sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungan. Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan akan rasa aman ini sangat nyata dan bisa diamati pada bayi, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua karena ketidakberdayaan mereka.

  1. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki.

Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki ini adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis, di lingkungan keluarga maupun lingkungan di masyarakat. Bagi individu-individu keanggotaan dalam anggota kelompok sering menjadi tujuan yang dominan dan mereka bisa menderita kesepian, terasing dan tak berdaya apabila keluarga, teman dan pasangan hidup atau pacar meninggalkannya.

  1. Kebutuhan akan rasa harga diri.

Kebutuhan keempat yaitu kebutuhan akan rasa harga diri oleh Maslow dibagi menjadi dua bagian yakni yang pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain. Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, kemadirian, dan kebebasan. Individu ingin mengetahui yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya. Adapun bagian kedua meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.

  1. Kebutuhan akan aktualisasi diri.

Kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori Maslow. Kebutuhan ini akan muncul setelah kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya telah terpenuhi atau terpuaskan dengan baik. Maslow menandai kebutuhan aka aktualisasi diri sebagai hasrat indivdu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya. Atau hasrat individu untuk menyempurnakan dirinya melalui pengungkapan segenap potensi yang dimilikinya.

Siapapun yang sudah mencapai tingkat aktualisasi diri berarti menjadi manusia seutuhnya, sanggup memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bagi orang lain hanya terlihat samar-samar atau bahkan tidak pernah dilihatnya sama sekali.

Sebagai tambahan bagi lima kebutuhan konatif ini, Maslow (Jess Feist & Gregory Jess Feist, 2008 : 247) juga mengidentifikasikan tiga kebutuhan dari kategori yang lain yaitu : kebutuhan estetis, kebutuhan kognitif, dan kebutuhan neurotik.

  1. Kebutuhan estetis

Tidak seperti kebutuhan konatif, kebutuhan estetis tidak bersifat universal, karena hanya segelintir orang disetiap budaya termotivasi oleh kebutuhan akan keindahan dan pengalaman-pangalaman yang menyenangkan secara estetis. Orang  dengan kebutuhan estetis kuat menginginkan lingkungan sekeliling yang indah dan teratur, dan jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi , mereka akan menjadi sakit karena kebutuhan konatifnya terhambat.

  1. Kebutuhan kognitif

Sebagian besar orang memiliki keinginan-keinginan untuk mengetahui sesuatu, memecahkan misteri, memahami sesuatu, dan ingin menyelidiki sesuatu. Maslow (1970) menyebut keinginan-keinginan ini dengan sebutan kebutuhan kognitif.

Maslow (1968, 1970), percaya bahwa pribadi yang sehat ingin tahu lebih banyak, berteori sesuatu, menguji hipotesis, memecahkan misteri atau menemukan bagaimana sesuatu bekerja hanya demi kepuasan mengetahui itu saja.

  1. Kebutuhan Neurotik

Khusus kebutuhan-kebutuhan neurotik, dia mengarah hanya kepada stagnasi dan patologi tertentu ( Maslow,1976). Menurut devinisinya kebutuhan neorotik bersifat non produktif. Kebutuhan ini hanya mendesakkan terus menerus gaya hidup tidak sehat dan tanpa nilai dalam perjuangan mereka untuk aktualisasi diri.

C.2. Kepribadian yang sehat menurut Maslow

Maslow (Yusuf Syamsu, 2007:161) berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self-actualizing person). Dia mengemukakan teori motivasi bagi self-actualizing person dengan nama metamotivation, meta-needs, B-motivation atau being values (kebutuhan untuk berkembang). Seseorang yang telah mampu mengaktualisasikan dirinya dirinya tidak termotivasi untuk mengejar sesuatu (tujuan) yang khusus, mereduksi ketegangan, atau memuaskan suatu kekurangan. Mereka secara menyeluruh tujuannya akan memperkaya, memperluas kehidupannya dan mengurangi ketegangan melalui bermacam-macam pengalaman yang menantang. Dia berusaha untuk mengembangkan potensinya secara maksimal, dengan memperhatikan lingkungannya. Dia juga berada dalam keadaan yang menjadi baik yaitu spontan, alami, dan senang mengekspresikan potensinya secara penuh.

Sementara motivasi bagi orang yang tidak mampu mengaktualisasikan dirinya, dia namai  D-motivation atau deficiency. Tipe motivasi ini cenderung mengejar hal yang khusus untuk memenuhi kekurangan dalam dirinya, seperti mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Ini berarti bahwa kebutuhan khusus (lapar) untuk tujuan yang khusus (makanan) menghasilkan motivasi untuk memperoleh sesuatu dirasakannya kurang (mencari makanan). Motif ini tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan fisiologis, tetapi juga rasa aman, cinta kasih, dan penghargaan.

Terkait dengan metaneeds, Maslow selanjutnya mengatakan bahwa kegagalan dalam memuaskan akan berdampak kurang baik individu, sebab dapat menggagalkan pemuasan kebutuhan yang lainnya, dan juga melahirkan metapatologi yang dapat merintangi perkembangannya. Metapalogi merintangi self-actualizers untuk mengekspresikan, menggunakan, memenuhi potensinya, merasa tidak berdaya, dan depresi. Individu tidak mampu mengidentifikasi sumber penyebab khusus dari masalah yang dihadapinya dan usaha untuk mengatasinya

D. Teori Kepribadian Humanistik Menurut George A. Kelly

Kelly ( diakses di http://www.dedeyahya.com/2011/05/makalah-teori-kepribadian-humanistik.html) meyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absolut. Fenomena itu hanya berarti manakala dihubungkan dengan cara individu mengkonstruksi fenomena tersebut.

D.1. Pandangannya tentang manusia

Aliran ini memandang manusia sebagai berikut:

  1. Manusia adalah scientist yang mencoba untuk memprediksi dan mengontrol fenomena atau tingkah laku. Konsekuensi logis dari pandangan ini adalahsebagai berikut :
  • Manusia itu pada dasarnya berorientasi ke masa depan, yaitu mencapai masa depan yang lebih baik dari masa sekarang.
  • Manusia memiliki kemampuan untuk mempresentasikan atau mengkonsep lingkungan dar pada hanya meresponnya.
  1. Manusia itu bebas (free) tetapi juga terkungkung (determined). Sistem konstruk individu dilengkapi dengan kebebasan untuk mengambil keputusan (freedom of decision) dan keterbatasan bertindak (limitation of action), sebab dia tidak dapat membuat pilihan di luar alternatif-alternatif yang telah ditetapkannya.

D.2. Struktur kepribadian

Struktur kepribadian manusia adalah sistem konstruknya. Konstruk merupakan cara menafsirkan dunia atau lingkungan. Konstruk merupakan konsep yang digunakan individu dalam menafsirkan, mengkategorisasikan, dan mempetakan tingkah laku. Individu mengantisipasi peristiwa dan menafsirkan jawabannya. Dia mengalami peristiwa dan menafsirkannya, kemudian menempatkan struktur dan pengertian atas peristiwa tersebut dalam mengamati peristiwa-peristiwa. Kelly mengukuhkan bahwa konstruk itu tersusun dari dua kutub atau kombinasi persamaan-perbedaan.

Konstruk-konstruk itu dapat dikategorikan kedalam cara yang bervariasi, yaitu sebagai beriawkut:

  • Core (inti), konstruk dasar dari fungsi individu.
  • Peripheral (pinggir, luar) konstruk yang dapat dirubah tanpa modifikasi mendasar, serius, dan konstruk inti.
  • Permeable (dapat ditembus), konstruk yang terbuka, dapat menerima element-element yang baru.
  • Impermeable (tak tembus atau tertutup) konstruk ysng menolak element-element baru.
  • Verbal, konstruk yang mempunyai simbol kata yang konsisten atau ajeg.

D.3. Proses dinamika kepribadian

Dalam proses dinamika Kelly merumuskan suatu postulat/asumsi, bahwa “proses seseorang secara psikologis dijembatani oleh cara, dia mengantisipasi peristiwa”. Postal tersebut mengimplikasikan bahwa:

  • Individu mencari/menyusun prediksi.
  • Individu mengantisivasi peristiwa.
  • Individu menggapai masa depan melalui jendela masa kini.

D.4. Perkembangan kepribadian

Kelly menyatakan bahwa konstruk-konstruk itu berasal/bersumber dari usaha mengkonstruksi replikasi (jawaban-jawaban) atas peristiwa-peristiwa yang tejadi. Kelly berpendapat bahwa perkembangan itu ditekankan kepada konstruk preverbal pada masa invancy (bayi kanak-kanak) dan penafsiran budaya yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari atau dialami.

D. Aplikasi Teori Kepribadian Humanistik

Teori kepribadian humanistic (Koeswara E, 1991:133) merupakan teori yang menekankan pada kualitas manusia yang unik dan mempunyai potensi untuk mengembangkan dirinya. Teori ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, bahwa manusia itu pada dasarnya mempunyai sifat yang beragam dan berbagai pemikiran yang berbeda. Dan pada dasarnya manusia juga mempunyai potensi untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing individu.

Menurut Maslow kebutuhan manusia itu dibagi menjadi lima tingkatan. Pada hakikatnya manusia memang memiliki banyak keinginan-keinginan yang muncul dari dalam diri individu maupun dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, hal tersebut dapat memacu individu agar berusaha mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Supaya kebutuhan-kebutuhan tersebut tercapai maka individu tersebut membutuhkan lingkungan atau orang lain. Hendaknya konselor dapat memposisikan dirinya agar dapat memahami kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan oleh kliennya.

Kepribadian yang sehat itu terbentuk setelah individu dapat mengaktualisasikan dirinya seutuhnya. Dalam proses bimbingan hendaknya konselor dapat membantu kliennya agar menjadi pribadi yang sehat serta dapat mencapai keinginan yang ada dalam individu tersebut, serta menggali potensi-potensinya

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Teori humanistik berkembang sekitar tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua teori ini adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori humanistic dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternative dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanalisis dan behavioristik). Kekuatan yang ketiga ini dinamakan humanistic karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya”.

Teori kepribadian humanistik ini diajarkan oleh beberapa ahli di antaranya adalah Carl Rogers yang membagi aspek-aspek kepribadian menjadi dua yaitu organisme dan self. Menurut Maslow kepribadian manusia itu ditandai dengan terpenuhinya lima kebutuhan manusia yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mencintai dan memiliki, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Sedangkan George A Kelly menganggap bahwa manusia adalah scietist yang mencoba untuk memprediksi dan mengontrol fenomena atau tingkah laku.

B.     Saran

Setelah mempelajari teori kepribadian humanistic ini, diharapkan agar supaya mahasiswa dapan mengetahui dan memahami masalah-masalah yang kami bahas dalam makalah ini. Seperti kebutuhan-kebutuhan manusia dan kepribadian humanistik menurut beberapa ahli. Tidak hanya memahami, sebagai seorang calon konselor hendaknya mampu menerapkan atau mengaplikasikan dalam proses kehidupan pribadi konselor serta pada kliennya.

DAFTAR PUSTAKA

Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Koswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco

Syamsu, Yusuf, Dkk. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: Remaja Rasda Karya

http://www.dedeyahya.com/2011/05/makalah-teori-kepribadian-humanistik.html

Makalah di tulis oleh

1.      Ekawati                   
2.      Harinto Ahmad S.

About these ads

Tentang Binham

Aku hanyalah manusia biasa yang setiap saat bisa saja berbuat salah, dari itulah aku akan selalu berusaha berbenah diri untuk menjadi lebih baik
Tulisan ini dipublikasikan di Bimbingan dan Konseling. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s