MEMBUKA DIRI


2.1  Membuka Diri

2.1.1        Arti dan Pentingnya Membuka Diri

Sebagian besar kegiatan komunikasi antar pribadi selalu dimulai dengan kontak disusul dengan interaksi, lalu komunikasi dan terakhir transaksi pesan. Membuka diri adalah awal dari kontak antarpribadi (Alo Liliweri, 2002).

Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995) Pembukaan diri atau self-disclosure adalah mengungkapkan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu atau yang berguna untuk memahami tanggapan kita dimasa kini tersebut. Tanggapan terhadap orang lain atau terhadap kejadian tertentu lebih melibatkan perasaan. Membuka diri berarti membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya, atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang baru saja kita saksikan.

Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995) pembukaan diri memiliki dua sisi, yaitu bersikap terbuka terhadap orang lain dan bersikap terbuka bagi yang lain. Kedua proses yang bisa berlangsung secara serentak itu apabila terjadi pada kedua belah pihak akan membuahkan relasi yang terbuka antara kita dan orang lain.

2.1.2 Manfaat Membuka Diri

Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995) beberapa dampak dan manfaat pembukaan diri terhadap hubungan antar pribadi adalah sebagai berikut:

1)      Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat antara dua orang.

2)      Semakin kita bersikap terbuka kepada orang lain, semakin orang lain tersebut akan menyukai diri kita. Akibatnya, Ia akan semakin membuka diri terhadap diri kita.

3)      Orang yang rela membuka diri kepada orang lain terbukti cenderung memiliki sifat : terbuka, kompeten, ekstrover, fleksibel, adaptif dan intelegen.

4)      Pembukaan diri merupakan dasar relasi komunikasi intim dengan diri sendiri dan orang lain

5)      Membuka diri berarti bersikap realistis. Maka pembukaan diri harus jujur, tulus, dan autentik.

Sedangkan Nilam Widyarini (2009: 102-103) mengemukakan keterbukaaan diri memiliki manfaat bagi masing-masing individu maupun bagi hubungan antara kedua belah pihak. Dengan membuka diri dan membalas keterbukaan kita dapat meningkatkan hubungan dengan orang lain. Secara rinci manfaatnya adalah:

1)      Meringankan

Berbagi dengan orang lain mengenai diri atau persoalan yang kita hadapi, dapat memberikan kondisi psikologis yang meringankan. Contohnya cerita tentang ketidakmampuan menghadapi ujian atau berakhirnya hubungan dengan seseorang. Bagaimana kita mengatasi hal itu? Bagaimana pandangan orang lain? Dengan membuka diri kita memperolah tambahan perspektif yang membantu diri sendiri.

2)      Membantu Validasi (menguji ketepatan) persepsi terhadap realita.

Dengan sudut pandang sendiri kita mungkin cendrung menggunakan ukuran yang idealis menurut diri sendiri. Bila kita mengkomunikasikan hal tersebut dengan seseorang yang tepat (yang memberikan simpati, suportif, dpat dipercaya, dan pendengar yang baik), kita tidak hanya mendapatkan persetujuan, tetapi juga informasi yang diperlukan untuk lebih memahami diri sendiri, yang kita perlukan agar memahami dunia secara lebih realistis.

3)      Mengurangi ketegangan dan stress

Bila kita menghadapi tegangan dan stress karena suatu hal bila tidak diungkapkan akan berkembang menjadi eksplosif (mudah meledak). Sebaliknya bila diungkapkan kepada orang lain kita akan menemukan jalan keluar. Andaikan tidak mendapatkan jalan keluar, setidaknya lebih ringan karena kita merasa tidak sendirian.

4)      Meringankan Fisik

Terdapat keterkaitan antara pikiran dengan sistem tubuh kita. Adanya pengaruh positif pada pikiran (akibat dari pengungkapan diri) berakibat pada fisik. Berbagi atau mengungkapkan diri dengan orang lain, membuat stress kita berkurang, kecemasan berkurang, dan meredakan pula detak jantung dan tekanan darah. Dengan kata lain pengungkapan diri dapat berpengaruh positif terhadap kesehatan fisik selain emosi.

5)      Alur komunikasi yang lebih jelas

Dengan menunjukkan keinginan untuk membuka diri terhadap orang lain, dan menghargai pengungkapan diri orang lain, berarti kita meningkatkan kemampuan untuk memahami sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Dengan demikian kita akan lebih percaya diri untuk mengklarifikasi niat-niat atau makna-makna dari orang lain

6)      Mempererat hubungan

Keterbukaan mengembangkan rasa senang yang semakin meningkatkan keterbukaan dan berakibat makin kuatnya rasa senang. Tanpa pengungkapan diri tingkat keeratan hubungan dan kepercayaan berada pada level rendah. Dengan keterbukaan dihasilkan kepercayaan, dan dengan kepercayaan dihasilakan kerja sama.

2.1.3        Kendala/Hambatan dalam Membuka Diri

Tidak semua orang memiliki keberanian membuka diri dalam menjalin sebuah hubungan dengan orang lain atau pertemanan. Membuka diri merupakan langkah awal yang sangat penting. Tanpa adanya keberanian membuka diri, tidak akan terjadi proses saling berbicara-mendengarkan, yang merupakan tindakan nyata yang dilakukan oleh orang-orang dalam menjalin hubungan dengan orang lain (persahabatan). Tanpa keterbukaan diri, hubungan yang dikembangkan dengan orang lain merupakan hubungan superficial (Nilam Widyarini, 2009).

Hubungan yang secara merupakan cirri khas yang ada dalam jalinan pertemanan atau hubungan dengan orang lain. Apabila seseorang mengalami hambatan untuk membuka diri, terdapat dua kemungkinan penyebab hambatan tersebut. Pertama, hambatan itu mungkin sekali disebabkan perasaan tertekan, marasa tidak berharga, dan takut mendapatkan respon yang kurang positif. Kedua, mingkin orang tersebut merasa berbeda dengan orang lain, karena pola pikirnya yang berbeda, lebih canggih atau lebih rumit, sehingga orang lain dianggap kurang memahami (Nilam Widyarini, 2009).

2.1.4   Ketrampilan Membuka Diri

2.1.4.1 Rambu-Rambu Dalam Pengungkapan Diri

Menurut Nilam Widyarini (2009: 100-102) ada rambu-rambu dalam pengungkapan diri agar hubungan menjadi efektif. Rambu-rambu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)      Lebih mengungkapkan perasaan dari pada fakta

Bila kita mengungkapkan perasaan kita terhadap orang lain, berate kita mengizinkan orang lain mengenali siapa kita sebenarnya. Contoh informasi bagaimana kita mengembangkan hubungan dengan sauadara-saudari kita membuat orang lain memahami kita dari pada sekedar memberikan informasi bahwa kita memiliki saudara.

2)      Semakin diperluas dan diperdalam

Mungkin kita masih mempunyai perasaan tidak nyaman berbagi pengalaman dengan seseorang yang seharusnya dekat denga kita. Untuk itu diperlukan pegembangan hubungan kearah yang lebih dalam (lebih mengungkapkan perasaan terhadap isu tertentu) dan diperluas (dengan mendiskusikan berbagai isu seperti pekerjaan, keluarga, religious, dan sebagainya.

3)      Fokus pada masa kini bukan masa lampau

Bila berbagai pengalaman soal masa lalu menjelaskan kenapa dulu kita melakukan tindakan tertentu adalah bersifat katarsis (melepaskan ketegangan) tetapi dapat meninggalkan perasaan bahwa kita lemah. Hal ini terjadi terutama bila keterbukaan tidak berlangsung timbale balik. Jadi lebih baik kita focus pada situasi sekarang.

4)      Timbal balik

Kita harus selalu mencocokkan tingkat keterbukaan kita dengan keterbukaan orang yang kita jumpai. Hati-hati jangan terlalu dini membuka diri, sebelum melewati masa-masa pengembangan hubungan yang familier. Disisi lain bila diperlukan, tidak perlu meninggu orang membuka diri. Jangan takut memulai langkah penting menjalin hubungan. Berikan contoh dan orang lain akan menyesuaikan diri . Bila orang tidak merespon secara seimbang hentikan langkah tersebut..

2.1.4.2 Kiat Memberikan Umpan Balik

Menurut Johnson (1981) umpan balik dari orang lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita,  yakni membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya (Supratiknya, 2004)

Tujuan umpan balik adalah memberikan informasi, konstruktif untuk menolong kita menyadari bagaimana perilaku kita dipersepsikan oleh orang lain dan mempengaruhinya. Umpan balik yang paling bermanfaat adalah umpan balik yang mampu menunjukkan kepada kita bahwa perilaku kita tidak atau belum seefektif sebagaimana kita harapkan, sehingga kita dapat mengubahnya agar lebih efektif. Sangat penting diperhatikan agar kita memberikan umpan balik jangan sampai bersifat menyerang atau menyinggung perasaan si penerima, sebab hal itu akan membuatnya defenisif, atau menutup diri.

Johnson (dalam Supratiknya, 2004: 21-22) memberikan beberapa kiat untuk memberikan umpan balik yang tidak bersifat mengancam, sebagai berikut:

Pertama, sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perilaku, bukan pada pribadi perilakunya. Kita menunjuk pada apa yang telah dilakukan seseorang, bukan menilaki kepribadiannya.

Kedua, sebaiknya umpan balik kita ungkapkan dalam bentuk deskripsi atau pelukisan, bukan dalam bentuk penilaian. Kita menunjuk pada peristiwa pada nyata terjadi, bukan menilai baik buruknya.

Ketiga, sebaiknya umpan balik kita pusatkan pada perilaku dalam situasi spesifik tertentu, bukan pada perilaku yang abstrak. Perbuata orang senantiasa terkait pada saat dan tempat tertantu. Hanya umpan balik yang mengkaitkan perilaku pada situasi pada situasi spesifik tertentu dan diberikan segera sesudah perilaku yang dimaksud terjadi, akan meningkatkan pemahaman diri perilakunya.

Keempat, sebaiknya umpan balik diberikan segera, tidak ditunda-tunda. Semakin ditunda semakin kurang manfaatnya.

Kelima, sebaiknya umpan balik kita sampaikan dalam bentuk upaya berbagi perasaan, bukan dalam bentuk nasehat atau petuah.

Keenam, sebaiknya kita tidak memaksakan umpan balik kepada orang lain. Umpan balik harus mengabdi pada kepentingan penerima, buka kemauan si pemberi.

Ketujuh, sebaiknya umpan balik jangan di brondongkan sampai melebihi batas kemampuan penerima untuk mencamkannya. Lewat umpan balik kita bermaksud menolong si penerima, bukan memuaskan hasrat pribadikita untuk member petuah kepada orang lain.

Kedelapan, sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perbuatan yang dapat diubah oleh orang yang bersangkutan, bukan pada ciri sifat yang apa boleh buat, harus diterimanya.

Akhirnya harus disadari bahwa member dan menerima umpan balik menuntut keberanian, keterampilan, pengertian, penghargaan baik terhadap diri sendiri baik terhadap orang lain, serta rasa terlibat. Tujuan umpan balik adalah meningkatkan pemahaman diri orang lain serat perasaan bahwa dirinya disintai, dihargai, bahwa dirinya mampu dan berharga.

 DAFTAR PUSTAKA

Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogjakarta: Lkis Yogjakarta.

Supratiknya, A. (2004). Komunikasi Antar Pribadi (Tinjaun Psikologis). Yogjakarta: Kanisius

Widyarini, Nilam. (2009). Kunci Pengembangan Diri. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Widyarini, Nilam. (2009). Membangun Hubungan dengan Manusia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s