Pendidikan Karakter


Pendidikan dewasa ini telah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan. Mulai dari perbaikan kutikulum, penentuan standar pendidik, pengembangan sistem pembelajaraan dan lain sebagainya. Hal ini tentunya adalah sebuah kabar gembira bagi anak bangsa dan siapapun yang peduli dengan kemajun bangsa Indonesia. Tapi sayangnya kemajuan tersebut masih belum bisa menyelesaikan permsalahan anak bangsa yang sesungguhnya.

Seperti yang kita ketahui, maraknya tindak kejahatan, korupsi, penipuan dan tindakan-tindakan yang melanggar norma masih kerap saja terjadi di lingkungan sekitar kita. Tidak jarang juga tindak kejahatan tersebut di lakukan oleh oknum atau orang yang mempunyai pendidikan yang baik. Terus yang jadi pertanyaan apa yang salah dengan pendidikan di Negara kita.

Ironis memang jika tadi di katakan pendidikan telah mengalami banyak kemajuan tapi ternyata belum mampu mencetak pribadi-pribadi anak bangsa yang punya pribadi dan karakter yang mencerminkan orang-orang yang terdidik dan berpendidikan. Ini bukanlah PR dari pemerintah saja, melainkan adalah tanggung jawab kita bersama sabagai anggota masyarakat yang peduli dengan masa depan bangsa.

Kampanye tentang pendidikan karakter di Indonesia dewasa ini mulai di gencarkan dengan harapan mampu memperbaiki output dari proses pendidikan. Kalau kita meninjau fungsi dan tujuan pendidikan jelas bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU No 20 Tahun 2003, pasal 3). Tujuan inilah yang harus menjadi dasar dalam pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan karakter.

Hal yang paling penting dalam pendidikan karakter bukan hanya pada kurikulum, atau perangkat pembelajaran, tapi bagaiman para pelaku pendidikan khususnya guru mampu mengintegrasikan dengan embentukan karakter pada perserta didik. Guru adalah salah satu agen penting dalam pendidikan karakter. Mutu dan kualitas guru akan sangat menentukan ketercapaian dari peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter. Maka apa yang perlu di lakukan guru?

Berikut ada beberapa upaya yang bisa di lakukan guru untuk meningkatakan kualitas diri sebagai pendidik dalam pendidikan karakter:

  1. Selalu berbenah diri. Guru juga manusia biasa yang bisa saja berbuat salah, namun guru yang berkualitas akan selalu senantiasa berbenah diri dan siap untuk di kritik untuk kebaikan bersama.
  2. Memperbaiki cara mengajar dan memberikan materi pelajaran. Mengajar bukan hanya sekedar mentransfer sebuah ilmu pengetahuan kepada siswa tapi lebih dari itu. Bagaimana guru mampu memotivasi dan menginspirasi siswa, ini menjadi lebih penting dalam pendidikan karakter. Mengajar memerlukan sebuah inovasi, seni dan kreasi. Inovasi adalah sebuah pembaruan yang di lakukan terhadap sesuatu yang sudah ada sehingga tampil lebih menarik, seni adalah suatu irama dalam sebuah tindakan sehingga kegiatan tidak kaku dan lebih fleksibel untuk di lakukan, sedangkan kreasi adalah sebuah cara dalam menemukan ide-ide baru yang bermutu yang bisa menambah sesuatu yang sudah ada menjadi lebih lengkap.
  3. Memandang diri sendiri dan orang lain secara positif, khususnya peserta didik. Sikap menerima dan memaafkan sangat penting di miliki. Jangan sampai guru menyimpan rasa dendam kepada peserta didik atas kesalahan yang pernah mereka lakukan. Hal ini masih banyak kita jumpai di lapangan dan hal ini akan sangat menghambat perkembangan peserta didik, bukannya peserta didik menjadi lebih baik, tapi biasanya kebalikannya perserta didik akan semakin sulit untuk dikendalikan.
  4. Punya dedikasi tinggi terhadap profesi. Guru adalah pekerjaan atau profesi mulia. Jangan sampai kemuliaan itu di kotori oleh orientasi yang salah dalam menjalani profesi tersebut. Mangajar adalah ibadah, jadi penting bagi guru untuk menanamkan idialisme tersebut dalam dirinya masing-masing. Meskipun tidak kita pungkiri bahwa guru juga memerlukan reward atau gaji untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun jangan hanya karena itu guru mengajar dan mendidik. Karena biasanya kalau reward yang di berikan tidak sesuai, maka kenerjanya akan cenderung menurun.

Untuk sampai ke tujuan seperti itu, dibutuhkan pikiran yang terbuka, jujur, keuletan, terencana dan waktu yang cukup agar terjadi perubahan dalam perilaku mengajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s