Potensi Spiritual Sebagai Akar Dari Potensi Diri


Bicara tentang potensi spiritual berarti bicara tentang hakikat manusia. Manusia di ciptakan di muka bumi mengemban dua tugas. Yaitu:

1.Sebagai Hamba

2.Sebagai Pemimpin (Khalifah)

Sebagai hamba manusia punya tugas untuk mengabdikan hidupnya kepada sang pencipta. Wujud dari pengabdian tersebut di sebut dengan ibadah. Ibadah bentuknya bermacam-macam dari yang bersifat ukhrowi (Sholat, Dzikir, Puasa, Haji, dsb) maupun duniawi (Sekolah, bekerja, bersosialisasi dsb). Sedangkan manusia sebagai pemimpin punya makna bahwa manusia mempunyai tugas untuk memimpin, minimal memimpin dirinya sendiri dalam mengontrol hawa nafsu.

Supaya dapat menjalankan tugasnya tersebut secara baik maka manusia harus mengoptimalkan semua potensi yang di berikan oleh sang pencipta kepada dirinya, yaitu potensi spiritual, potensi intelektual, potensi emosional dan potensi fisik.

Namun perlu di ketahui pada dasarnya dasar atau akar dari semua potensi adalah potensi spiritual.  Karena sehebat apapun potensi intelektual, emosi, dan fisik tanpa dasar potensi spiritual yang kuat akan mudah goyah oleh terpaan keadaan. Sehingga banyak orang yang memiliki kemampuan tersebt terjerumus dalam tindakan-tindakan yang tidak benar.

Raja Bambang Sutikno dalam bukunya “The Power Of 4Q” keempat potensi tersebut digambarkan sebagai pohon yang hebat dan luar biasanya Ia menyebutnya sebagai pohon 4Q. Potensi spiritual diibaratkan sebagai akar, potensi fisik di ibaratkan sebagai pohon/batang pohon, potensi emosi di ibaratkan sebagai daun dan potensi intelektual di ibaratkan sebagai buah. Sebuah pohon, daun dan buah tidak akan pernah bisa hidup tanpa akar, karena akar adalah sebagai penyerap sari-sari makanan yang di butuhkan oleh pohon, daun dan buah.

Jika seandainya ada pohon yang memiliki batang yang besar, buah yang banyak dan daun yang lebat tapi tidak memiliki akar yang kuat, pohon tersebut mungkin bisa saja hidup, tapi tidak akan pernah bertahan lama. Sekarang coba kita bayangkan apabila ada seseorang yang memiliki potensi fisik, emosi dan intelek yang baik tapi tanpa pondasi spiritual yang kuat, maka bisa kita bayangkan bagaimana hasilnya dan bukti nyata itu bisa kita lihat di kehidupan nyata.

Mengingat pentingnya potensi spiritual, maka dalam peningkatan potensi diri potensi spiritual tidak bisa di kesampingkan. Alangkah lebih baik jika keempat potensi tersebut bisa berjalan secara seimbang, karena memang pada dasarnya keempat potensi tersebut saling terkait satu sama lain. Mulai membuka diri untuk menerima kritikan dan saran bisa kita jadikan sebuah upaya awal untuk mulai melatih dan menata diri ke arah yang lebih baik. Supaya mampu menjalankan tugasnya sebagai hamba dan sebagai khalifah (mampu memimpin diri sendiri dan orang lain).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s