Bermain adalah proses belajar bagi anak


Belajar dan bermain adalah dua hal yang tidak mungkin bisa di pisahkan dari kehidupan anak-anak. Bahkan menurut para ahli jika seorang anak tidak mendapatkan kesempatan bermain bisa berdampak pada kehidupannya yang akan datang. Namun pandangan semacam ini belum bisa sepenuhnya duterima oleh sebagian besar orang tua, terlebih bagi mereka yang tidak memahami tahap perkembangan anak.

Bagi anak-anak istilah belajar mungkin belum bisa di pahami secara benar sehingga bisa di katakan bagi anak-anak belajar mungkin belum ada dalam pikiran mereka. Sebuah studi kasus pernah saya lakukan kebeberapa anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya, ketika anak-anak saya ajak mengafal angka satu sampai sepuluh, saya ajari mengenal hewan dengan media gambar, dan saya suruh bernyanyi. Mereka cenderung tidak menuruti,  malah membuat saya sendiri pusing. Namun ketika saya bawa beberapa mainan seperti pazzle, alat permainan bongkar pasang dan miniatur hewan-hewan yang terbuat dari plastik mareka sangat antusias. Saat mereka asyik bermain puzzle, permainan bongkar pasang dan miniature hewan secara tidak langsung merek telah melakukan proses belajar yang melibatkan kemampuan kognitif dan emosi. Satu  lagi supaya mereka menuruti perintah saya untuk menyanyi saya mencoba memainkan gitar, dan bernyanyi sebuah lagu yang sering anak-anak tersebut nyanyikan ketika di sekolah. Tanpa saya menyuruh mereka dengan sendirinya ikut bernyanyi bersama saya, dan lucunya lagi mereka sambil joget-joget.

Dari apa yang sudah saya lakukan tersebut, saya menyimpulkan bahwa anak-anak tidak akan pernah bisa lepas dari bermain. Disini peran orang tua dan guru menjadi sangat penting untuk mengarahkan dan membimbing mereka dalam bermain secara benar. Namun perlu di ingat tidak semua permainan bisa di jadikan sarana belajar, jadi jangan sampai kita punya dogma bahwa itu hanya permaianan anak-anak dan itu adalah sebagai suatu proses belajar. Contoh jenis permainan yang perlu dihindarkan adalah jenis permaianan yang memungkinkan beresiko terhadap diri anak itu sendiri dan orang lain, misalnya berantem-beranteman seperti yang ada di televise, bermain dengan air seperti di kolam ataupun sungai dan semua hal yang beresiko pada gangguan keselamatan si anak.

Keterangan-keterangan di atas harusnya menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa melepaskan anak-anak dari dunianya yaitu bermain. Kalau terkadang kita melihat beberapa anak yang sudah harus melakukan berbagai aktifitas kognitif, tanpa ada waktu untuk bermain seseungguhnya itu akan merugikan anak. Apapun alasannya jangan sampai dunia anak ini kita hilangkan hanya untuk memenuhi tujuan kita saja. Alasan demi kebaikan anak memang sering menjadi alasan namun sebenarnya itu adalah keegoisan orang tua belaka. Jadi dari sekarang biarkan anak tetap dalam dunianya yaitu bermain, kita sebagai orang tua hanya bisa mendampingi dan mengarhkan anak supaya tetap bisa bermain namun tetap ada unsure edukasi yang mampu mendidik anak secara langsung pada permainan yang mereka lakukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s