Setiap anak mampu belajar


Setiap anak yang lahir pasti dibekali dengan berbagai kemampuan yang bisa di kembangkan. Karena individu itu unik maka setiap anak pasti punya kelebihan sendiri-sendiri yang tidak akan sama dengan yang lain, seandainyapun ada yang sama pasti skalanya berbeda. Banyak ahli psikologi anak sepakat bahwa kemampuan atau yang lebih di kenal dengan bakat adalah bawaan dari lahir. Dari pendapat para ahli tersebut saya mempunyai sebuah asumsi bahwa bakat itu memang bawaan dari lahir yang memilki skala yang sama. Artinya semua anak berpeluang menjadi apapun dalam hidupnya kelak.

Coba sekarang kita perhatikan bayi bayi yang baru lahir apakah kita bisa memprediksikan bahwa nanti kalau sudah dewasa anak ini akan menjadi penyanyi, pelukis, pemain sepak bola atau seorang arsitek. Sulit rasanya jika kita memprediksi bakat yang dimiliki seorang bayi. Seperti yang kita ketahui bahwa bayi yang baru lahir hanya bisa menangis, apakah mungkin kita bisa memprediksi tangisan bayi dengan bakat yang ia miliki. Sampai di sini mungkin saya setuju dengan pendapat Zusuki bahwa bakat anak baru bisa di prediksi setelah anak berproses menjalani pertumbuhan daan perkembangannya, namun saya tetap setuju bahwa bakat adalah bawaan dari lahir.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak punya kesempatan yang sama untuk berhasil dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Masalah ia jadi apa kelak, lingkunganlah yang berperan penuh dalam menumbuhkan dan memupuk bakat anak tersebut. Setiap anak tumbuh dengan tempo dan irama masing-masing sesuai dengan tahap perkembangannya. Namun di dalam kehidupan nyata sering kita jumpai ada beberapa orang tua, yang mamaksakan anaknya untuk lebih cepat matang dari teman-temannya yang lain. Sehingga banyak orang tua yang mamaksakan diri untuk memberikan latihan tambahan berhitung dan mambaca, dengan tujuan anak-anak mereka bisa menguasai kemampaun berhitung dan membaca pada usia sedini mungkin dan mereka percaya ini akan lebih baik buat mereka. Kenyataan lain juga sering kita lihat di lingkungan sekolah ada pengelompokan anak antara anak yang pandai dan bodoh, dengan alih-laih untuk lebih memudahkan guru dalam memberikan materi pembelajaran. Sebenarnya hal ini hanyalah sebuah scenario para orang dewasa untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam mendidik. Keadaan yang seperti ini tentu tidak adil untuk anak-anak, para orang dewasa cenderung manyalahkan anak-anak ketika mereka tidak mampu menyerap materi pelajaran atau mengikuti intruksi dari orang dewasa. Sebuah pola pikir baru harus berani kita lakukan, kita sebagai pendidik harus berani mengatakan pada diri kita sendiri “apa yang salah dengan cara saya mengajar? Apakah saya terlalu kaku dalam menggunakan media pembelajaran?Apa yang harus saya perbaiki dengan cara mengajar saya?”

Sebagai mana seperti yang sudah di jelaskan para ahli psikologi bahwa anak di lahirkan dengan memiliki kamampuan belajar. Hanya saja minat itu akan hilang jika materi pembelajaran yang diberikan terlalu mudah atau terlalu sulit. Dari sebuah tantangan bagi para pendidik bagaiman mampu mengemas materi pelajaran sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s