Upaya Mendidik Anak Berperliku Menyimpang


Tidak semua anak dilahirkan seperti anak lain pada umumnya. Karena berbagai penyebab anak-anak ini tumbuh dan berkembang menjadi anak berbeda. Dikatakan beda karena anak-anak ini menunjukkan kecenderungan adanya penyimpangan perilaku dibandingkan sebgaian besar anak seusia mereka. Berbedaan tersebut menyebabkan kebutuhan anak-anak inipun berbeda dengan yang lain, termasuk dalam pola asuh dan pendidikannya.

Anak berperilaku menyimpang sering kali membuat frustasi orang tua dan guru.  Sikap dan perilaku mereka sulit ditebak, dan dikendalikan. Berinteraksi dengan mereka bisa mengurus tenaga dan pikiran. Hal ini terjadi karena guru dan orang tua belum menguasai dengan seksama bagaimana memperlakukan mereka. Dari itu guru dan orang tua dituntut harus lebih bekerja keras, senantiasa mengembangkan diri, menambah wawasan sehingga mampu menerapkan pola pendidikan sesuai dengan karakteristik anak yang bersangkutan.

Agar dapat mengarahkan anak-anak tersebut guru dan orang tua harus menjalin kerjasama. Mereka harus menyamakan persepsi guna mencapai tujuan bersama yaitu pengembangan diri yang optimal. Selain peran guru dan orang tua sebagai pengasuh, kita tidak boleh meninggalkan peran teman sebaya. Tanpa adanya penerimaan dan dukungan dari teman sebaya, tujuan yang tadi direncanakan akan sulit untuk diraih.

Berikut ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua dan guru dalam mendidik anak yang memilki perilaku yang menyimpang.

1.      Memupuk kesabaran diri

Sabar adalah kunci pertama sebagi langkah awal untuk mendidik anak yang mempunyai perlaku menyimpang. Tanpa sabar guru dan otang tua tidak akan mampu melakukan upaya lanjutan untuk mendidik dan mengarahkan mereka. Yang ada justru orang tua dan guru akan semakin frustasi dan stress. Jika guru dan orang tua dalam keadaan frustasi, maka bukan penyelesaian dan hasil optimal yang di dapat, malah sebaliknya anak akan semakin sulit untuk dikendalikan.

2.      Berusaha memberikan keamanan Psikologis pada anak

Keamanan psikologis sangat penting dimiliki oleh seorang anak. Keamanan psikologis akan memberikan ruang kepada terbukanya komunikasi yang hangat antara anak dengan orang tua dan guru. Anak paling tidak suka di diamkan, diolok-diolak dibanding-bandingkan dan lain sebainya, yang membuat mereka tidak merasa tidak dihargai. Sebisa mungkin guru dan orang tua menima perlikau mereka sabagai salah satu tahapan dalam prose pengembangan diri kearah yang lebih baik.

3.      Meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak

Waktu adalah emas. Sedikit saja kita melaungkan waktu untuk anak, kita akan kehilangan anak kita. Tidak akan pernah sebuah komunikasi terjalin. Tanpa adanya sebuah komunikasi oran g tua akan sulit memahami dan berempati dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak. Dari itu luangkan waktu disela-sela kesibukan kita untuk bersama dengan anak, untuk membahas sesuatu hal yang menjadi keinginan anak dan harapan-harapannya.

4.      Memberikan kesempatan kepada anak

Setelah mengetahui apa yang menjadi harpan, masalah-masalah yang di alami anak. Guru dan orang tua harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan atau mengaktualisasikan dirinnya. Guru dan orang tua tidak usah memaksa mereka untuk melakukan yang terbaik. Biarkan meraka melakukan sesuatu hal sesuai dengan kemampuan mereka. Apapun hasilnya berikan mereka sebuah reward atas usaha yang sudah mereka lakukan.

5.      Mendampingi anak

Setelah upaya demi upaya sudah dilakukan dan membuahkan hasil. Maka peran orang tua tidak berhanti sampai di situ saja. Anak butuh pendampingan secara terus menerus. Supaya langkah mereka selalu senantiasa terkontrol. Dalam upaya mendampingi anak guru dan orang tua tidak boleh terjebak. Upaya pendampingan ini tidak boleh, membuat anak merasa tertekan. Tetap berikan kebebasan kepada anak untuk bergaul dan bermain, sesuai dengan dunia mereka. Guru dan orang tua harus juga memahami bahwa setiap tahapan perkembangan, anak mempunyai tugas perkembangan yang harus mereka kerjakan. Kalau tugas perkembangan ini tidaka bisa dilakukan anak, maka bisa berdampak pada perilakunya di masa yang akan datang. Jadi upaya pendampingan yang dilakukan harus diarahkan kepada pencapaian tugas perkebambangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s