Klasifikasi dan tipe kejahatan remaja


Menurut Kartini Kartono (2011) ada empat tipe klasifikasi dan kejahatan remaja di pandang dari struktur kepribadian. Diantaranya tipe-tipe tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

1.      Delinkuensi Terisolir

Perbuatan kejahatan ini biasanya di dorng oleh faktor berikut:

  • Kejahatan ini lebih banyak di dorong oleh keinginan meniru, ingin conform dengan norma gangnya.
  • Mereka kebanyakan berasal dari daerah-daerah kota yang transisional sifatnya yang memiliki cultural criminal
  • Biasanya anak tipe ini berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, tidak konsekuen dan mengalami banyak frustasi
  • Karena keluarga yang tdai harmonis mengakibatkan anak keluar dan memuaskan semua kebutuhan dasanya di tengah anak-anak criminal
  • Kurang mendapat supervise dan disiplin yang teratur di lingkungan keluarga


2.      Delinkuensi Neurotik

Pada umunya anak-anak delinkuensi tipe ini menderita gangguan jiwa yang cukup serius. Ciri tingkah laku mereka antara lain:

  • Bersumber pada sebab-sebab psikologis yang sangat dalam
  • Tingkah laku criminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan
  • Bianya melakukan kejahatan seorang diri, dan mempraktikkan jenis kejahatan tertentu
  • Memiliki ego yang lemah dan cenderung untuk mengisolir diri
  • Motivasi kejahatan mereka berbeda-beda, tergantung dorongan nafsu dari masing-masing orang
  • Perilakunya melibatkan kualitas kompulsif

3.      Delinkuensi Psikopatik

Tipe ini biasanya sedikit jumlahnya. Adapaun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Hampir sebagian besar anak tipe ini berasal dan di besarkan dalam lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian keluarga, berdisiplin keras namn tidak konsisten, dan selalu menyia-nyiakan anaknya.
  • Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan pelanggaran
  • Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau tidak dapat diduga-duga
  • Mereka selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial yang berlaku
  • Acapkali mereka juga menderita gangguan neurlogis, sehingga mengarangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.
  1. 4.      Delenkuensi Defek Moral
  2. Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Delekuensi defek moral mempunyai ciri-ciri:
  • selalu melakukan tindakan a-sosial atau anti-sosial, walaupun dalam dirinya tidak terdapat penympangan dan gangguan kognitif, namun ada disfungsi pada integensinya.
  • Mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingakh lakunya yang jahat
  • Selalu saja mereka ingin melakukan perilaku kejahatan
  • Sikapnya dingin dan beku
  • Tidak memiliki rasa harga diri
  • Selalu bersikap bermusuhan dengan siapapun juga

Demikianlah penjelasan singkat terkait dengan klasifikasi dan tipe kejahatan pada remaja.

Referensi:

Kartono, Kartini. (2011). Psikologi Sosial Kenakalan Remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s