Kurikulum Berbasis Kompetensi


Kurikulum Berbasis Kompetensi atau yang lebih kita kenal sebagai KBK dewasa mulai banyak diperbincangkan. Sosialisasi terhadap pengembangan kurikulum, khususnya diperguruan tinggi sudah dilakukan sejaka tahun 2004.  Berdasarkan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional model kurikulum untuk meningkatkan mutu pendidikan yang diterapkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia adalah berbasis kompetensi (KBK).KBK dimaksudkan untuk dapat mencapai keunggulan bangsa, sehingga mampu bersaing di dunia.

Sejak bergulirnya pengembangan Kurikulum KBK, ternyata belum sepenuhnya dipahami secara positif oleh sebagian praktisi pendidikan. Pandangan yang muncul tersebut adalah hal yang wajar, mengingat di setiap pengembangan kurikulum pasti ada sisi kelemahan dan kelebihan. Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas tentang kelebihan dan kekurangan KBK, namun diskusi akan lebih menitikberatkan pada konsep dasar tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan memilki pemahaman yang benar terhadap Kurikulum ini, kita akan lebih mampu memberikan pandangan yang objektif tentang keberadaan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Pengertian Kurikum Berbasis Kompetensi

Secara umum kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurkikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai pebelajar, penilaian, kegiatan belajar. mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, dalam Dewa Komang Tantra, 2009).

Kompetensi Utama

Mengacu pada kompetensi yang dikembangkan Anderson dan Krathwhol (2001:ii), maka Kompetensi Utama dapat dikelompok menjadi 4 (empat) gugus, yaitu: 1) factual knowledge, 2) conceptual knowledge, 3) procedural knowledge, dan 4) metacognitive knowledge. Ke-empat gugus kompetensi utama tersebut perlu dijembatani dengan lima unsure pokok yang diamanatkan dalam Kepmen 045/U/2002, yaitu: Pengembangan kepribadian (MK), pengembangan keahlian dan keterampilan (MKK), pengemabngan keahlian berkarya (MKB), pengembangan perilaku berkarya (PPB), dan pengembangan berkehidupan bermasyarakat (PBB).

Acuan Dasar Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi harus di dasarkan pada sebuah kerangka dasar, yaitu tingkat pengetahuan, ketrampilan, tata nilai dan sikap, tidak dapat menjadi kompetensi yang terpisah satu sama lain. Kesemuanya harus menyatu dan melebur di dalam semua kompetensi yang di inginkan (Chomsin S. Widodo & Jasmadi, 2008).

Tiga pertanyaan mendasar yang harus dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu: Pertama, kemampuan apa yang dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan kegiatan belajar mengajar atau setelah lulus. Pertanyaan ini akan menjadi landasan utama dalam pengembangan KBK karena jawabannya adalah tentang kompetensi, seperti yang akan menjadi tujuan dan sasaran pembelajaran. Kedua, apa desain instruksional atau proses pembelajaran yang dapat membantu peserta didik mempunyai kompetensi yang diinginkan. Ketiga, bagaimana mengetahui peserta didik mencapai kompetensi yang di inginkan. Pertanyaan ini akan mengarahkan bagaimana cara mengevaluasi kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan (Chomsin S. Widodo & Jasmadi, 2008).

Langkah Penyusunan Kurikulum

Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyusun kurikulum adalah dengan melakukan analisis SWOT dan Tracer Study serta Labor Market Signals, seperti tergambar dalam skema proses penyusunan kurikulum dibawah ini.

Dalam penyusunan kurikulum yang sering dilakukan setelah didapat hasil dari analisishal-hal tersebut adalah menentukan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan inilah yang kemudian segera dijabarkan dalam mata kuliah yang kemudian dilengkapi dengan bahan ajarnya (silabus) untuk setiap mata kuliah (Dirjen Pendidikan Tinggi, 2008).

Sedangkan menurut (Chomsin S. Widodo & Jasmadi, 2008: 17) langkah yang dapat ditempuh dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi adalah:

  1. Mendifinikasn prasayarat professional yang dibutuhkan dalam kawasan pengetahuan, ketrampilan dan sikap (kompetensi yang dibutuhkan). Informasi tentang prasyarat profesioanal yang dibutukan atau tingkat kompetensi di masyaraakat didapatkan dari masukan para stakeholders.
  2. Menentukan prasyarat professional, tujuan pemebelajaran dan sasaran yang ingin dicapai. Peserta didik harus mengetahui kompetensi yang akan di capai setelah mengikuti proses beljar mengajar karena tidak semua kompetensi yang diinginkan dimasyarakat terpenuhi setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar.
  3. Menerjemahkan tujuan pembelajaran dan sasaran yang ingin dicapai kedalam sebuah rencana pembelajaran yang tergambarkan dalam topic-topik belajar, metode pengajaran yang digunakan, dan sasaran penilaian.
  4. Mengembangkan sebuah rencana untuk perbaikan kualitas pembelajaran. Pengembangan ini memaksa penyelenggara pendidikan untuk selalu mengontrol kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dan juga selalu mengikuti perkembangan dan peningkatan kompetensi yang diinginkan oleh masyarakat dan dunia kerja.
  5. Menerapkan kegiatan dalam belajar mengajar dan mengembangkan strategi evaluasi. Fokus dalam kegiatan belajar mengajar yang dilangsungkan adalah pada performa kompetensi yang akan di capai buka pada materi atau content.

Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Pmebelaran

Kurikulum berbasis kompetensi memberikan cakupan yang cukup luas (holistic) tentang kemampuan yang harus di capai oleh peserta didik. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi telah memberikan sesuatu yang bermakna bukan hanya pada peserta didik tetapi juga untuk pengajar atau pelatih. Peserta didik dituntut untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam belajar (mandiri dan kelompok). Sedangkan bagi pengajar dituntut meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam materi pembelajaran (content) dan selalu mengikuti perkembangan informasi yang ada di sekitarnya untuk dapat memfungsikan posisinya sebagai pendidik atau pengajar. Pengajar (dosen/guru/pelatih) dalam proses pembalajarn harus tetap menggunakan koridor bahwa pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pada proses bukan hasil (Chomsin S. Widodo & Jasmadi, 2008)

Model-model Pembelajaran dalam KBK

Terdapat beragam metode pembelajaran untuk SCL, di antaranya adalah: (1) Small Group Discussion; (2) Role-Play & Simulation; (3) Case Study; (4) Discovery Learning (DL); (5) Self-Directed Learning (SDL); (6) Cooperative Learning (CL); (7) Collaborative Learning (CbL); (8)Contextual Instruction (CI); (9) Project Based Learning (PjBL); dan (10) Problem Based Learning and Inquiry (PBL). Selain kesepuluh model tersebut, masih banyak model pembelajaran lain yang belum dapat disebutkan satu persatu, bahkan setiap pendidik/dosen dapat pula mengembangkan model pembelajarannya sendiri (Dirjen Pendidikan Tinggi, 2008)

Daftra Pustaka

Tantra Dewa, Komang. (2009). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Disampaikan dalam “Kegiatan Penyempurnaan Kurikulum Fakultas Seni Rupa dan Desain , Institut Seni Indonesia Denpasar” di Kampus Institut Seni Indonesia Denpasar.

….. (2008). Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Komptensi Pendidikan Tinggi. Direktorat Akademik Dirjen Pendidikan Tinggi.

Widodo, Chomsin S. & Jasmadi. (2008). Panduan Menyusun Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Jakarta: Elex Media Komputindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s