Metode Observasi


Peenulis: Sinta Hardiyanthi

Observasi sebagai metode pengumpul data mempunyai ciri yang spesifik bila di bandingkan dengan teknik lain, yaitu wawancara atau kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek yang lain (Sugiyono, 2011).

Rahardjo & Gudnanto (2011: 47) menyatakan bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan (secara inderawi) yang direncanakan, sistematis dan hasilnya di catat serta dimaknai (diinterpretasikan) dalam rangka memperoleh pemahaman tentang objek yang diamati.

Dari kedua pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa observasi atau pengamatan adalah suatu kegiatan mengamati perilaku siswa secara nampak dan hasilnya di catat serta di interpretasikan guna memperoleh pemahaman tentang objek yang di amati.

Dalam penelitian kualitatif observasi atau pengamatan dapat di manfaatkan sebesar-besarnya dengan alasan sebagai berikut:

1)      Teknik pengamatan ini di dasarkan atas pengalaman secara langsung

2)      Teknik observasi atau pengamatan juga memungkinkan melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya

3)      Pengamatan memungkinkan peneliti mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proposional maupun pengetahuan yang langsung diperoleh dari data

4)      Sering terjadi ada keraguan peneliti, jangan-jangan pada data yang di jaringnya ada yang menceng atau bias.

5)      Teknik pengamatan atau observasi memungkinkan peneliti memahami situasi-situasi yang rumit

6)      Dalam kasus-kasus tertentu di mana teknik komunikasi lainnya tidak memungkinkan, pengamatan dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat (Moleong, 2002: 125-126).

Observasi sebagai metode pengumpul data juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hal ini di sampaikan oleh Surya (dalam Rahardjo & Susilo, 2011: 50-51) yang semuanya dapat di jelaskan sebagai berikut:

1)      Observasi merupakan teknik yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh berbagai data berbagai aspek tingkah laku.

2)      Bagi observer, hal ini lebih meringankan dibandingkan dengan apabila mereka disuruh mengisi angket atau menjawab pertanyaan

3)      Teknik observasi memungkinkan di lakukan pencatatan yang serempak dengan terjadinya gejala atau kejadian penting

4)      Observasi dapat merupakan teknik untuk mencek data yang diperoleh dengan teknik lain seperti wawancara, angket, kuesioner, dan sosiometri

5)      Dengan observasi, observer tidak memerlukan bahasa verbal sebagai alat bantu memperoleh data

6)      Dengan observasi dapat diperoleh data, gejala atau kejadian yang sebenarnya dan langsung.

Selain beberapa keuntungan sebagaimana tersebut di atas, observasi juga memiliki kelemahan-kelemahan sebagai berikut:

1)      Banyak hal yang tidak dapat diungkap dengan observasi, misalnya kehidupan pribadi yang bersifat rahasia

2)      Apabila siswa mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi, mungkin sekali mereka melakukan kegiatan tidak wajar lagi (perilakunya dibuat-buat)

3)      Observasi banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak terkontrol

4)      Faktor subjektivitas observer sulit dihindari.

Daftar isi:

Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Rahardjo, Susilo & Gudnanto. (2011). Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Kudus: Nora Media Enterprise.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s