Kualitas Pribadi Konselor


Menurut Cavanagh (dalam Syamu Yusuf & Juntika Nurihsan, 2010) mengemukakan bahwa kuaalita pribadi konselor di tandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut:

Pemahaman diri. Self-Knowledge ini berarti bahw konselor memahami dirinya dengan baik, dia memahami secara pasti apa yang dia lakukan, mengapa dia melakukan hal itu, dan masalah apa yang harus dia selesaikan.

Kompeten. Yang di maksud kompeten di sini adalah bahwa konselor itu memiliki kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial dan moral sebagai pribadi yang berguna. Kompetensi sangatlah penting bagi konselor, sebabklien yang di konseling akan belajar dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia

Memiliki kesehatan psikologis yang baik.  Konselor di tuntut memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari kliennya . Hal ini penting karena kesehataan psikologis  konselor akan mendasari  pemahamannya terhadap perilaku dan ketrampilannya.

Dapat di percaya. Kualitas ini berarti  konselor itu tidak menjadi ancaman atau penyebab kecemasan bagi klien . Kualitas konselor yang dapat di percaya sangat penting dalam konseling.

Jujur. Yang di maksud jujur di sini adalh bahwa konselor itu bersikap transparan, autentik, dan asli

Kuat. Kekuatan dan kemampuan konselor sangat penting dalam konseling, sebab dengan hal itu klien akan merasa aman. Klien memandang konselor sebagai orang yang (a) tabah dalam menghadapi masalah, (b) dapat mendorong klien untuk mengatasi masalah, (c) dapat menanggulangi kebutuhan dan masalah pribadi.

Hangat.  Yang di maksudbersikap hangat ialah: ramah, penuh perhatian, dan memberikan kasih sayang.

Responsif. Keterlibatan konselor dalam proses konseling bersifat dinamis tidak pasif

Sabar. Melalui kesabaran konselor dlam proses konseling dapat membantu klien untuk mengmbangkan dirinya secara alami

Sensitif. Kualitas ini berarti bahwa konselor menyadari tentang adanya dinamika psikologis yang tersembunyi atau sifat-sifat mudah mudah tersinggung, baik pada diri klien maupun dirnya sendiri.

Memiliki kesadaran yang holistik. Konselor memahami klien secara utuh  dan tidak mendekatai secara serpihan

Sumber:

Yusuf, syamsu & Nurihsan, A. Juntika. (2010). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s