Pendekatan Realitas


Konsep Dasar

Pandangan tentang manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Sebagaimana dinyatakan oleh Glasser dan Zunin (1973), “Kami percaya bahwa masing-masing individu memiliki suatu kekuatan ke arah kesehatan atau pertumbuhan. Pada dasarnya orang-orang ingin puas hati dan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku  yang bertanggung jawab, dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna” (h.297). penderitaan pribadi bias diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bias mengubah cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka mereka pun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas bergantung pada perubahan tingkah laku. ( Gerald Corey, 1973 : 268 )

Maka jelaslah bahwa terapi realitas tidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun di atas asumsi bahwa manusia adalah agen yang  menentukan dirinya sendiri. Prinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memikul tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.

Tujuan Konseling

Tujuan umum dari terapi realitas adalah agar klien menemukan jalan yang lebih efektif untuk memenuhi kebutuhannya. Ini meliputi kegiatan terhadap klien agar memeriksa apa yang ia lakukan, ia pikirkan, dan ia rasakan. Dalam terapi ini, klien diarahkan agar menilai dirinya sendiri, apakah yang ia itu realistis dan apakah perilakunya sudah mendukung keinginannya itu. Klien harus bisa bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat. ( Singgih Gunarso, 1992 : 24 )

Ciri-ciri dari Terapi Realitas

Teori control memberikan kerangka konseptual terhadap terapi realitas. teori ini mendasari prinsip dan praktek yang diaplikasikan oleh konselor pada usaha menolong orang agar bisa berubah. Beberapa dari ciri yang menonjol dari teori realitas adalah seperti di bawah ini: (Gerald Corey, 1995 : 525-527)

1)             Penolakan terhadap model medis. Membuang konsep ortodoks dari sakit mental, termasuk gangguan neurotik dan psikotik merupakan kekuatan pendorong dari pendekatan realitas sejak awal.

2)             Tidak menekankan pada trasferensi. Tentang menolak gagasan trasferensi sebagai suatu konsep yang menyeleweng, Glasser berpendapat bahwa terapis konvensional menaruh idenya ke dalam benak kliennya dengan menjejalkan pendapat itu. Terapi realitas melihat transferensi sebagai cara terapis untuk membuat dirinya tetap tersembunyi sebagai orang. Terapi ini menuntut terapis untuk menjadi dirinya sendiri dan tidak memikirkan atau pun yang mengajar bahwa dirinya memainkan peran sebagai ibu atau ayah si klien. Terapis realitas berurusan dengan persepsi apa pun yang dimiliki klien, dan tidak ada usaha untuk mengajarkan klien bahwa reaksi dan pandangan mereka tidak seperti yang mereka tidak seperti yang mereka nyatakan.

Hubungan antara Konselor dan Klien

Hubungan antara konselor dan klien dapat berjalan sebagai berikut : ( Gerald Corey, 1973 : 278-281 )

1)      Terapi realitas berlandaskan hubungan untuk keterlibatan pribadi antara terapis dan klien. Terapis, dengan kehangatan, pengertian, penerimaan, dan kepercayaannya atas kesanggupan klien untuk mengembangkan  suatu identitas keberhasilan, harus mengomunikasikan bahwa dia menaruh perhatian.

2)      Perencanaan adalah hal yang esensial dalam terapi realitas. Situasi terapeutik tidak terbatas pada diskusi-diskusi antara terapis dan klien.

3)      Komitmen adalah kunci utama terapi realitas. Setelah para klien membuat pertimbangan-pertimbangan nilai mengenai tingkah laku mereka sendiri dan memutuskan rencana-rencana tindakan, terapis membantu mereka dalam membuat suatu komitmen untuk melaksanakan rencana-rencana itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pernyataan-pernyataan dan rencana-rencana tidak ada artinya sebelum ada keputusan untuk melaksanakannya.

4)      Terapi realitas tidak menerima dalih. Jelas bahwa tidak semua komitmen klien bisa terlaksana. Rencana-rencana bisa gagal. Akan tetapi, jika rencana-rencana gagal, terapis realitas tidak menerima dalih. Arinya dalam pendekatan realitas, seorang terapis tidak pernah memaklumi atau memaafkan tingkah laku klien yang tidak bertanggung jawab.

Model Penampilan

Model dalam pendekatan realitas adalah sebagai berikut : ( Gerald Corey, 1995 : 531 )

1)      Keterlibatan pribadi dengan klien. Praktek terapi realitas mulai dengan usaha konselor untuk menciptakan lingkungan yang mendukung di mana klien bisa memulai membuat perubahan dalam hidupnya. Untuk menciptakan iklim terapeutik semacam ini, konselor harus bisa terlibat dalam hidup kliennya dan menciptakan iklim saling mempercayai.

2)      Sikap dan perilaku konselor yang meningkatkan perubahan. Secara konsisten konselor berusaha untuk memfokuskan klien pada apa yang mereka lakukan sekarang. Mereka juga mengelak untuk membahas perasaan atau psikologi klien seolah-olah itu semua terpisah dari perilaku total mereka. Konselor menolong klien untuk bisa melihat hubungan antara apa yang mereka rasakan dengan perbuatan serta pikiran yang mereka terkait.

Analisis dan Diagnosis Masalah

Paraklien diharapkan berfokus kepada tingkah laku mereka sekarang alih-alih kepada perasaan-perasaan dan sikap-sikap mereka. Terapis menantang para klien untuk memandang secara kritis apa yang mereka perbuat dengan kehidupan mereka dan kemudian membuat pertimbangan-pertimbangan nilai yang menyangkut keefektifan tingkah laku mereka dalam mencapai tujuan-tujuan. Karena para klien bisa mengendalikan  tingkah lakunya lebih mudah ketimbang mengendalikan perasaan-perasaan dan pikirannya. Maka tingkah laku mereka itu menjadi focus terapi.                                Setelah para klien membuat penilaian tertentu tentang tingkah lakunya sendiri serta memutuskan bahwa mereka ingin berubah, mereka diharapkan membuat rencana-rencana yang spesifik guna mengubah tingkah laku yang gagal menjadi tingkah laku yang berhasil.Paraklien harus membuat suatu komitmen untuk melaksankaan rencana-rencana ini; tindakan menjadi keharusan. Mereka tidak bisa menghindari komitmen dengan mempermasalahkan, menerangkan, atau memberikan dalih. Mereka harus terlibat aktif dalam pelaksanaan kontrak-kontrak terapi mereka sendiri secara bertanggung jawab apabila ingin mencapai kemajuan. ( Gerald Corey, 1973 : 277 )

Model Peran Konselor

Dalam pendekatan realistis, seorang konselor mempunyai peran sebagai berikut : ( Gerald Corey, 1995 : 528 )

1)        Menyediakan sebuah model dari perilaku bertanggung jawab dan model dari  hidup yang didasarkan pada identitas sukses.

2)        menciptakan iklim saling mempercayai yang didasarkan pada saling mempedulikan dan respek.

3)        memfokuskan pada kekuatan dan potensi yang individual yang bisa membawa ke sukses.

4)        secara aktif mempromosikan diskusi tentang perilaku klien sekarang dan tidak membiarkan dalih-dalih mengapa sampai dilakukan perilaku bertanggung jawab dan tidak efektif.

5)        Memperkenalkan dan mendorong proses evaluasi secara realistis keinginan yang bisa dipenuhi.

6)        mengajar klien memformulasikan dan melaksanakan rencana untuk mengubah perilaku mereka.

7)        menegakkan struktur dan batas-batas suatu sesi.

8)        menolong klien menemukan jalan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka dan menolak untuk menyerah begitu saja, bahkan pada saat klien menjadi kehilangan semangat.

Model Teknik Konseling

Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis juga menggunakan beberapa teknik sebagai berikut : ( Gerald Corey, 1973 : 281-282 )

1)      terlibat dalam permainan peran dengan klien;

2)      menggunakan humor;

3)      mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun;

4)      membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan;

5)      bertindak sebagai model dan guru;

6)      memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi;

7)      menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis; dan

8)      melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan pendekatan realitas : ( Gerald Corey, 1973 : 285 )

  • Jangka waktu terapi relatif pendek.
  • Klien diharuskan dapat mengavaluasi tingkah lakunya sendiri.
  • Pemahaman dan kesadaran tidak cukup, tetapi klien dituntut untuk melakukan tindakan atas komitmen yang telah ia buat.

Kekurangan terapi realitas : ( Gerald Corey, 1973 : 286 )

  • Tidak memperhatikan dinamika alam bawah sadar manusia.
  • Di satu sisi pendekatan ini juga  memandang peristiwa masa lalu sebagai penyebab dari peristiwa sekarang.

Aplikasi Konseling

Pendekatan ini paling cocok untuk konseling individu, kelompok, dan konseling perkawinan. Dalam konseling individu, biasanya konselor menemui klien sekali dalam seminggu. Sementara dalam konseling kelompok, konselor bisa dengan meminta komitmen dari para anggota kelompok untuk melaksanakan rencana dan komitmen yang telah dibuat sesuai dengan masalah yang dibahas dalam forum tersebut. Sedangkan aplikasi pendekatan realitas dalam konseling perkawinan adalah ketika sepasang suami istri berkeinginan untuk bercerai. Melalui pendekatan ini konselor dapat mengeksplorasi pro dan kontra diteruskannya suatu perkawinan. ( Gerald Corey, 1973 : 283 )

Contoh Perilaku Salah Suai

Lia adalah seorang siswa SMA Kelas XII yang sebentar lagi akan menghadapi UN. Seperti siswa pada umumnya, lia pun menginginkan lulus dengan nili terbaik dan diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Namun perilaku Lia tidak menunjukkkan adanya usaha untuk meraih itu semua. Ia pun sering tidak mengikuti les yang diadakan disekolahnya, ketika seorang guru menanyai perssiapannya untuk menghadapi UN, lia pun menjawab dengan mudahnya kalau untuk menghadapi UN tidak perlu persiapan juga, asalkan kita punya relasi dengan siswa lain. Dengan relasi ini kita bisa saling bertukar jawaban. Pemikiran lia ini termasuk  tidak realistis, dalam masalah ini konselor dapat menggunakan pendekatan realitas.

Daftar Pustaka

Corey, Gerald. 1973. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Corey, Gerald. 1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang : IKIP Semarang Press

Gunarso, Singgih. D. 1992. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: BKPGM

Penulis: Heni Handayani, Arifatun Nikmah, Febriana Eri Ulva. Mahasiswa UMK

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s