Ciri-Ciri dan Objek Studi Kasus


Ciri-Ciri Studi Kasus

Susilo Rahardjo & Gudnanto (2011: 252-253) menyatakan bahwa tidak semua masalah dapat di sebut atau di katakan sebagai kasus. Suatu masalah dalam bimbingan dan konseling dapat di sebut kasus jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1)      Merupakan suatu peristiwa yang di pandang sebagai suatu masalah yang cukup serius, yang di alami oleh siswa baik kelompok maupun perorangan

2)      Masalah tersebut masih dalam wilayah atau ruang lingkup bimbingan dan konseling

3)      Tidak terselesaikannya masalah tersebut secara tepat/sehat dapat menimbulkan kerugian maupun hambatan perkembangan.

4)      Pada umumnya perlu mendapatkan bantuan dalam proses penyelesaian.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kasus adalah karakter masalah serius yang di lakukan siswa dan masih dalam wewenang konseling,  jika tidak segera diselesaikan akan menyebabkan berbagai masalah dan bisa merugikan diri sendiri dan menghambat perkembangan siswa.

Terkait dengan ciri-ciri studi kasus Surya dan Natawidjaja (dalam Rahardjo & Gudnanto, 2011) menjelaskan bahwa studi kasus antara lain memiliki cirri-ciri mengumpulkan data yang lengkap, bersifat rahasia, terus-menerus, di lakukan secara ilmiah, dan diperoleh dari berbagai pihak. Berbagai ciri-ciri tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

1)      Data yang lengkap, bukan berarti data yang banyak, karena data yang banyak belum tentu lengkap.

2)      Bersifat rahasia, maksudnya data atau keterangan yang di peroleh tentang individu harus dijaga kerahasiaannya.

Berlangsung secara terus menerus, maksudnya di dalam memahami dan menolong individu harus di lakukan secara terus menerus dan

1)      berkesinambungan, jangan sampai berhenti sebelum memperoleh  pemahaman dan dapat memberikan bantuan sampai kasusnya terselesaikan.

2)      Secara ilmiah, maksudnya konselor dalam memahami kasus berdasarkan data dan di peroleh secara ilmiah.

3)      Data di peroleh dari berbagai pihak, maksudnya data yang dibutuhkan konselor untuk membantu individu di peroleh dari berbaga sumber yang diperkirakan dapat memberikan informasi tentang diri individu.

Terkait dengan data yang di peroleh dari berbagai sumber tersebut Winkel & Sri Hastuti (2006: 312) menjeaskan bahwa sumber data tersebut seperti kartu pribadi, wawancara informasi, otobiografi, data hasil testing, arsip catatan kesehatan, wali kelas, guru-guru, petugas bimbingan yang lain, dan orang-orang lain yang sudah lama mengenal siswa.

Pada umumnya data dan informasi itu meliputi: identitas, latar belakang keluarga, riwayat pertumbuhan jasmani, riwayat pendidikan dan hasil evaluasi belajar, data hasil testing, minat dan hobi, rencana masa depan, jaringan pergaulan sosial, dan data lain yang berkaitan dengan kesulitan yang tampak sekarang ini (Winkel & Sri Hastuti, 2006).

Daftar Pustaka:

Rahardjo, Susilo & Gudnanto. (2011). Pemahaman Individu Teknik Non Tes. Kudus: Nora Media Enterprise

Winkel, WS & Hastuti, Sri. (2004). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogjakarta: Media Abadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s